⌂ Beranda News Rupiah Alami Overshooting Akibat Tekanan Ekonomi Global dan Domestik

Rupiah Alami Overshooting Akibat Tekanan Ekonomi Global dan Domestik

Rupiah Alami Overshooting Akibat Tekanan Ekonomi Global dan Domestik
Grafik pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah dinilai tengah mengalami fase overshooting pada Kamis, 28 Mei 2026. Depresiasi yang terjadi bergerak lebih dalam dibandingkan kondisi fundamental jangka panjang Indonesia.

Analis Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul, menyatakan bahwa pelemahan rupiah sudah melampaui justifikasi fundamental. "Rupiah saat ini sedang berada dalam fase overshooting," ujarnya dalam keterangan tertulis.

>>> Mako Bakery dan Yoshinoya Hadirkan Promo Gajian Diskon 50 Persen

Pelemahan ini lebih besar dari indikator ekonomi lainnya. Rupiah menjadi shock absorber utama karena tekanan ekonomi dialihkan ke kurs.

"Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak hilang. Tekanan itu pindah ke kurs," kata Fakhrul.

Meski indikator domestik masih positif, pasar tidak hanya melihat data headline.

"Pasar melihat apakah Indonesia punya policy anchor yang cukup kuat untuk menghadapi era global baru yang lebih volatile dan inflationary," tambahnya.

>>> Amerika Serikat Tolak Visa Delegasi Rusia dan Iran untuk Sidang PBB

Pengujian saat ini lebih mengarah pada kredibilitas dan konsistensi kebijakan pemerintah.

"Ketika fiskal memilih menjaga inflasi tetap rendah dan adjustment harga sangat terbatas, maka BI dan rupiah harus bekerja jauh lebih keras," ujar Fakhrul.

Faktor eksternal seperti penguatan dolar AS, tingginya yield US Treasury, ketegangan geopolitik Timur Tengah, dan fragmentasi perdagangan turut memperberat rupiah.

Pergerakan rupiah di luar negeri sempat menyentuh Rp17.892 per dolar AS saat pasar domestik libur Iduladha.

Rupiah ditutup melemah 0,25% di level Rp17.886 per dolar AS.

>>> Oxygen.id Dorong Kesiapan Infrastruktur Digital Pelaku UKM di Bekasi

Pada Kamis, rupiah di pasar Non-Deliverable Forward dibuka stagnan dan menguat tipis ke Rp17.846 per dolar AS pukul 06.02 WIB.

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menambahkan bahwa tekanan rupiah tidak semata-mata ditentukan suku bunga.

"Sumber tekanannya datang bersamaan dari harga minyak tinggi, dolar AS kuat, imbal hasil obligasi AS tinggi, kebutuhan dolar domestik, arus modal keluar, serta kekhawatiran fiskal dan arah kebijakan," katanya.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah tidak masuk akal karena fundamental ekonomi Indonesia bagus.

>>> OPPO Resmi Luncurkan Find X9 Ultra di Indonesia dengan Kamera 200MP

Pemerintah melakukan intervensi di pasar obligasi sebesar Rp2 triliun per hari untuk menjaga imbal hasil tetap terkendali.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru