⌂ Beranda News Kenali 8 Ciri Kepribadian Orang yang Suka Playing Victim

Kenali 8 Ciri Kepribadian Orang yang Suka Playing Victim

Kenali 8 Ciri Kepribadian Orang yang Suka Playing Victim
Ilustrasi orang yang suka playing victim
A A Ukuran Teks16px

Playing victim atau berpura-pura menjadi korban adalah perilaku manipulatif yang sering membuat orang lain menjauh. Banyak individu memilih menghindar karena sikap ini dianggap merugikan dan tidak sehat.

Perilaku ini digunakan untuk memanipulasi orang lain demi mendapatkan perhatian.

>>> Pisahkan Daging dan Jeroan Kurban untuk Cegah Kontaminasi Bakteri

Sikap tersebut juga memicu rasa bersalah pada orang di sekitarnya sekaligus menjadi cara untuk menghindar dari tanggung jawab.

"Seseorang yang manipulatif mungkin berpura-pura menjadi korban untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan," kata Leonard, dikutip dari Psychology Today.

Memahami karakteristik kepribadian ini sangat penting dalam membangun hubungan. Pengetahuan tersebut dapat menjadi langkah preventif agar tidak terjebak dalam manipulasi yang merugikan emosi.

8 Ciri Kepribadian Playing Victim

Berikut adalah delapan tanda spesifik yang menunjukkan seseorang memiliki mentalitas sebagai korban dalam kehidupan sehari-hari.

1. Menolak Tanggung Jawab

Individu dengan kecenderungan ini kerap melarikan diri dari kewajiban mereka. Menyalahkan pihak lain dan mencari-cari alasan menjadi cara untuk mengelak dari tanggung jawab pribadi.

"Dapat dimengerti bahwa banyak orang yang menghadapi satu kesulitan demi kesulitan lainnya mungkin mulai percaya bahwa dunia ingin menjatuhkan mereka.

Tetapi banyak situasi terjadi melibatkan tingkat tanggung jawab pribadi yang tidak bisa dihindari," ungkap pakar Timothy J. Legg, PhD, PsyD, dikutip dari Healthline.

2. Enggan Mencari Jalan Keluar

>>> Reli Pasar Aluminium Global Dorong Ekspor China Capai Rekor

Mereka yang memposisikan diri sebagai korban umumnya kurang tertarik untuk mengubah keadaan. Bantuan yang ditawarkan sering kali ditolak karena mereka lebih fokus pada rasa kasihan terhadap diri sendiri.

Meresapi kesedihan dalam waktu tertentu sebenarnya dapat membantu memproses emosi yang terluka. Namun, proses tersebut idealnya memiliki batas waktu yang jelas dan diikuti dengan keterbukaan menerima bantuan solusi.

3. Memperlihatkan Ketidakberdayaan

Banyak individu merasa tidak memiliki kendali atau kekuatan untuk memperbaiki situasi yang dihadapi. Meski tidak menyukai kondisi tertindas, mereka menganggap realitas hidup terlalu berat untuk dikelola.

Kondisi ini memicu keputusan sadar untuk melimpahkan kesalahan kepada faktor luar atau orang lain.

4. Krisis Kepercayaan Diri

Pandangan negatif terhadap diri sendiri berdampak langsung pada tingkat harga diri. Hal ini memperkuat persepsi bahwa mereka adalah korban dari keadaan sekitar.

"Mereka mungkin berpikir seperti, 'Saya tidak cukup pintar untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik' atau 'Saya tidak cukup berbakat untuk sukses'.

Perspektif tersebut dapat mencegah mereka untuk mencoba mengembangkan keterampilan mereka atau mengidentifikasi kekuatan dan kemampuan baru yang dapat membantu mereka mencapai tujuan," ungkap Legg.

5. Tindakan Manipulatif

>>> BCA dan BNI Sesuaikan Jadwal Operasional Selama Libur Akhir Mei 2026

Beberapa orang tampak menikmati momen menyalahkan orang lain atas persoalan yang sebenarnya mereka timbulkan sendiri. Kemarahan sengaja diluapkan untuk memicu rasa bersalah demi meraup simpati.

Dalam kondisi yang lebih intens, perilaku beracun ini kerap berkolerasi dengan gangguan kepribadian narsistik.

6. Merusak Kepercayaan Orang Lain

Pengkhianatan yang dilakukan secara berulang membuat individu ini sulit menaruh kepercayaan pada pihak manapun. Mereka juga dikenal sangat jarang memenuhi komitmen yang telah disepakati.

7. Kerap Frustrasi dan Marah

Mentalitas ini berdampak buruk bagi kesehatan emosional jangka panjang. Rasa frustrasi kerap muncul karena mereka merasa seluruh situasi selalu berjalan tidak memihak kepada mereka.

Akumulasi emosi negatif tersebut berisiko memicu ledakan kemarahan, depresi, isolasi sosial, hingga rasa kesepian.

8. Melakukan Sabotase Diri

Pola pikir sebagai korban membuat seseorang terus menginternalisasi pesan-pesan negatif. Muncul keyakinan keliru bahwa hal buruk hanya menimpa mereka dan tidak ada orang yang peduli.

>>> Swedia Janjikan Program Bayi Tabung Gratis untuk Dongkrak Angka Kelahiran

Dialog batin yang destruktif ini berjalan beriringan dengan sabotase diri. Kondisi tersebut membuat mereka secara tidak sadar menggagalkan setiap upaya yang sebenarnya bisa membawa perubahan positif.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru