Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik, Paus Leo XIV, menerbitkan ensiklik pertamanya yang berjudul Magnifica Humanitas. Dokumen tersebut mengkritik potensi penyalahgunaan kekuasaan oleh perusahaan teknologi raksasa.
Ensiklik ini dirilis pada Selasa (26/5/2026) dan menolak penyetaraan sistem kecerdasan buatan (AI) dengan kapasitas penuh manusia.
>>> Cara Mudah Melihat Pajak Motor di STNK
Menurut laporan yang dikutip dari The Register, sistem komputasi hanya meniru kalkulasi tertentu tanpa kesadaran moral atau emosi.
Paus Leo XIV menulis bahwa kecepatan dan kapasitas komputasi AI memang menawarkan manfaat nyata di banyak bidang. Namun, kekuatan itu tetap terikat pada pemrosesan data semata.
Takhta Suci mengkhawatirkan ketimpangan kendali infrastruktur digital global yang saat ini didominasi segelintir aktor ekonomi raksasa.
Konsentrasi kekuatan yang minim pengawasan publik itu meningkatkan risiko eksklusi, manipulasi, dan kesenjangan sosial baru.
>>> 12 Cara Menyejukkan Ruangan Tanpa AC, Mudah dan Hemat Listrik
Paus Leo XIV menekankan perlunya keterlibatan politik yang lebih aktif.
"Yang dibutuhkan adalah keterlibatan politik yang lebih aktif yang mampu memperlambat segala sesuatu ketika semuanya berjalan cepat," tulisnya.
Kritik ini dinilai relevan dengan kondisi industri saat ini, seperti dokumen prospektus SpaceX yang mempromosikan Grok sebagai model pencari kebenaran berdasarkan misi pribadi Elon Musk.
>>> Tiwi/Fadia Langsung Tersingkir di Babak Pertama Singapore Open 2026
Ensiklik ini juga menyoroti eksploitasi upah pekerja moderasi konten, kerusakan lingkungan akibat konsumsi energi pusat data, dan risiko senjata otonom militer.
Paus Leo XIV juga menyinggung disrupsi pasar tenaga kerja. "Pengejaran keuntungan yang lebih besar tidak dapat membenarkan pilihan yang secara sistematis mengorbankan lapangan pekerjaan," tulisnya.
Manusia adalah tujuan, bukan sarana, dan tatanan ekonomi harus tunduk pada martabat manusia dan kebaikan bersama.
Menanggapi ensiklik tersebut, pendiri Anthropic Chris Olah mengakui bahwa pengembangan teknologi saat ini masih berpusat di beberapa negara kaya.
>>> Warga Kawasi dan Harita Nickel Lestarikan Situs Budaya Pulau Obi
Ia menyatakan bahwa mekanisme pembagian keuntungan teknologi secara global masih menjadi persoalan yang belum terpecahkan.