Panel reformasi National Testing Agency (NTA) India merekomendasikan agar ujian NEET beralih ke format berbasis komputer (CBT).
Langkah ini dinilai mampu menghapus hampir 95 persen celah kerawanan yang memicu kebocoran soal.
>>> Legenda Saksofon Jazz Sonny Rollins Meninggal di Usia 95
Menurut Bansal, terdapat tiga reformasi utama yang paling dibutuhkan NTA saat ini. Pertama, hukuman maksimal bagi mafia ujian.
Kedua, penerapan ujian berbasis komputer. Ketiga, penguatan operasi rahasia pra-ujian dan verifikasi kandidat.
"Ujian kertas dan pena yang melibatkan lebih dari 2,2 juta kandidat menciptakan kerentanan di setiap tahap — pencetakan, pengangkutan, dan pengamanan kertas di ribuan pusat.
CBT menyelesaikan hampir 95 persen masalah tersebut karena kertas terenkripsi dapat dikirim ke pusat hanya beberapa jam sebelum ujian," kata Bansal.
Reformasi Struktural dan Hukuman bagi Mafia Ujian
Panel reformasi bekerja selama hampir enam bulan dan mengajukan 95 rekomendasi. Jika termasuk saran tambahan, jumlahnya mencapai lebih dari 100.
Sebagian besar rekomendasi telah diimplementasikan.
Bansal menekankan bahwa keberadaan mafia ujian yang terus mencari celah keamanan membuat proses reformasi harus dipandang sebagai proses yang terus berkembang.
Ia mendesak adanya hukuman berat bagi mafia ujian demi mengembalikan kepercayaan publik.
NTA telah menunjuk perwira senior Abhishek Singh sebagai Direktur Jenderal NTA yang baru. Singh dinilai memiliki kapabilitas dalam proyek tata kelola digital skala besar.
>>> Netflix Rilis Season Dua Bad Thoughts Secara Global
"Keputusan untuk memindahkan NEET ke CBT secara efektif telah diambil, dan itu adalah reformasi struktural utama," ujar Bansal.
Ia yakin para peserta akan melihat perubahan fundamental dalam 8 hingga 10 bulan ke depan.
Panel juga merekomendasikan pembentukan tenaga kerja permanen dan tim teknologi internal yang kuat untuk mengurangi ketergantungan pada staf kontraktual.
Jika ada orang dalam yang terbukti bersalah, hukumannya harus menjadi contoh.
Pelaksanaan ujian disarankan lebih banyak menggunakan fasilitas pemerintah guna meningkatkan akuntabilitas. Pembatalan NEET-UG tahun ini juga menjadi pesan tegas bagi mereka yang membayar mahal untuk bocoran soal.
"Tidak ada jalan pintas yang membantu dalam hidup," kata Bansal.
Mengenai kesiapan infrastruktur, Bansal menegaskan tantangan implementasi dapat diselesaikan secara sistematis.
Ada dua lapisan: enkripsi backend dan standar keamanan yang dapat menyamai tolok ukur global, serta infrastruktur fisik seperti perangkat berfungsi, cadangan daya, keyboard, dan stabilitas jaringan.
Panel juga mengusulkan solusi futuristik seperti taksi CBT seluler untuk menjangkau daerah terpencil. Penggunaan sistem pengujian multitahap dan pembagian sif dapat mengurangi beban infrastruktur secara signifikan.
>>> MGK dan Wiz Khalifa Rilis Mixtape Bersama 'Blog Era Boyz'
Bansal menolak argumen bahwa ujian dalam beberapa sif membuat standarisasi tidak seragam. Menurutnya, normalisasi nilai adalah praktik global yang sudah lazim.
"Argumen bahwa banyak sif membuat ujian 'tidak seragam' adalah logika yang cacat. Siapa di dunia ini yang mengatakan ujian berhenti menjadi seragam karena diadakan dalam dua sif?
Itu pemikiran primitif," tegas Bansal.
Panel juga merekomendasikan pembatasan jumlah kesempatan ujian demi menyeimbangkan keadilan, inklusivitas, dan prestasi. Bansal menekankan bahwa reformasi ini tidak boleh dipandang hanya dari sisi kebocoran soal.
"Ini tentang menyeimbangkan prestasi, inklusivitas, dan keadilan," ujarnya.
Komite telah menampung lebih dari 37.000 saran dari berbagai pihak melalui pengajuan digital dan konsultasi fisik.
Bansal mengimbau para siswa untuk tetap optimis dan tidak kehilangan kepercayaan pada sistem pendidikan nasional.
"Reformasi ini nyata. Niatnya nyata.
Implementasi sedang berlangsung. Para siswa harus tetap optimis dan tidak kehilangan kepercayaan karena tindakan kriminal segelintir orang.
>>> Christopher Walken Bela Film Musikal Puss in Boots 1988 yang Gagal di Pasaran
Mereka yang bertanggung jawab akan menghadapi hukum dunia dan hukum Tuhan," pungkas Bansal.