Sonny Rollins, legenda saksofon jazz yang berpengaruh dari generasi bebop, meninggal dunia di rumahnya di Woodstock, New York, pada Senin sore.
Ia wafat pada usia 95 tahun.
>>> MGK dan Wiz Khalifa Rilis Mixtape Bersama 'Blog Era Boyz'
Publisisnya, Terri Hinte, mengonfirmasi kabar duka tersebut.
Pengumuman juga disampaikan di situs resmi Rollins pada hari yang sama dengan rasa duka mendalam dan cinta yang besar.
Pihak keluarga tidak memberikan penyebab pasti kematian sang musisi.
Dalam pernyataan di situsnya, Rollins pernah merenungkan tentang kematian. Ia berkata, "Saya pikir ketika seorang kreatif berakhir, ia melanjutkan di kehidupan selanjutnya.
Saya percaya hidup ini bukanlah segalanya."
Rollins telah merilis lebih dari 60 album sejak akhir 1940-an. Ia berkolaborasi dengan musisi ikonik seperti Miles Davis, Thelonious Monk, dan John Coltrane.
Ia dikenal karena penemuan melodinya, keterampilan improvisasi, dan solo epik yang mengubah jazz menjadi wilayah ekspresif baru.
Saksofonis Branford Marsalis menyebut Rollins sebagai "improvisator terhebat dalam sejarah jazz" dan membandingkannya dengan Louis Armstrong.
Mantan Presiden AS Barack Obama, saat memberikan penghargaan National Medal of the Arts pada 2011, mengakui pengaruh Rollins.
Obama mengatakan Rollins menginspirasinya untuk mengambil risiko yang mungkin tidak akan diambilnya.
Rollins lahir sebagai Walter Theodore Rollins di New York City pada 1930. Ia tumbuh di Harlem dan mulai belajar saksofon pada usia tujuh tahun.
Band sekolah menengahnya menampilkan bintang masa depan seperti Jackie McLean, Kenny Drew, dan Art Taylor.
>>> Christopher Walken Bela Film Musikal Puss in Boots 1988 yang Gagal di Pasaran
Setelah lulus, ia segera tampil dengan talenta besar seperti Bud Powell dan JJ Johnson.
Rollins menggambarkan pendekatan musik awalnya sebagai "primitif… saya mengikuti perasaan lebih dari otak saya."
Gaya inovatifnya mendapat pujian dari rekan-rekannya. Miles Davis mencatat bahwa Rollins dengan cepat menjadi legenda dan pemain agresif dengan ide musik segar.
Rollins pernah berkata, "Jazz itu baik. Ini bukan sekadar musik kuliah, bukan musik goyang bokong.
Ini segalanya. Itu tidak membuatmu ingin berkelahi.
Itu membuatmu merasa bahwa ada Tuhan."
Meski sukses secara musik, Rollins menghadapi masalah pribadi dengan kecanduan heroin. Ia dipenjara selama 10 bulan di Rikers Island setelah perampokan bersenjata pada 1950.
Rollins menyebut dirinya saat itu sebagai "karakter yang benar-benar tercela… saya mengasingkan semua orang kecuali ibu saya."
Ia mengatasi kecanduannya melalui program rehabilitasi pada 1955.
Hal ini memicu periode kreatif yang intens di mana ia merekam 18 album sebagai pemimpin band pada akhir dekade itu.
Rekaman landmarknya termasuk Saxophone Colossus (1956), Way Out West (1957), dan Freedom Suite (1958). Album terakhir berfungsi sebagai argumen budaya untuk gerakan hak-hak sipil.