Ratusan umat Hindu di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, melaksanakan persembahyangan Hari Raya Galungan di Pura Pitamaha pada Rabu (17/6/2026).
Perayaan ini merupakan simbol kemenangan kebenaran atas kejahatan.
Hari Raya Galungan tahun ini jatuh pada 17 Juni 2026. Rangkaian perayaan akan dilanjutkan dengan Hari Raya Kuningan pada 27 Juni 2026 mendatang.
Masyarakat menyemarakkan peringatan tahunan ini dengan saling membagikan ucapan selamat dalam bahasa Indonesia dan Bali. Ucapan tersebut berisi doa keselamatan, kesucian hati, serta kesejahteraan bersama.
Persiapan dan Refleksi Sosial
Menjelang hari raya, penjualan pernak-pernik sesajen berbahan janur dan daun lontar meningkat. Harganya bervariasi mulai dari Rp25 ribu hingga Rp2 juta per unit tergantung bentuknya.
Momentum suci ini juga memicu refleksi kritis mengenai tantangan sosial dan budaya yang dihadapi masyarakat setempat.
Pengamat dan intelektual Bali, Jro Gde Sudibya, memberikan catatan kritis terkait fenomena manipulasi kebenaran dalam realitas kehidupan saat ini.
"Kebenaran, Dharma menjadi bagian hakiki manusia, menjadi alasan keberadaan, raison d'etre manusia di Alam Fana yang maya ini," kata Jro Gde Sudibya.
Ia menyoroti beberapa contoh nyata di Bali seperti dampak negatif investasi hasil kolusi, ketergantungan desa adat pada bantuan penguasa, hingga perilaku destruktif yang memicu kemiskinan struktural.
"Raina Galungan, secara normatif kemenangan Dharma terhadap Adharma, sehingga tantangannya, keberanian krama Bali melawan 'kebenaran' palsu di atas," ujarnya.
