Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan rencana pengadaan minyak dari Rusia tetap berjalan.
Langkah ini diambil untuk memperkuat cadangan domestik meskipun ketegangan di Selat Hormuz mulai mereda.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menyatakan bahwa proses impor masih berlangsung. Arahan Presiden Prabowo Subianto menjadi dasar percepatan pengadaan tersebut.
Dasar Hukum dan Diversifikasi
Percepatan pengadaan bahan bakar minyak (BBM) memiliki landasan hukum yang kuat. Keppres Nomor 26 Tahun 2026 mengizinkan BUMN dan Lemigas untuk mengeksekusi impor minyak dari Rusia.
Selain Rusia, pemerintah juga melakukan diversifikasi impor dari negara lain. "Pembelian minyak dari negara lain juga sedang dilakukan, kecuali dari Timur Tengah yang berkonflik.
Diversifikasi impor sudah dilakukan, kita ambil juga dari Afrika, Nigeria, Angola, dan Amerika," jelas Anggia.
Langkah diversifikasi ini bertujuan meminimalkan risiko ketergantungan pada pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Gangguan pasokan sempat terjadi akibat konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran.
