Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membentuk tim pengadaan batu bara kalori sedang untuk memenuhi kebutuhan PT PLN (Persero).
Langkah ini berdasarkan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto.
Tim khusus ini melibatkan kolaborasi lintas instansi, terdiri dari perwakilan PLN, Inspektur Jenderal (Irjen), Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, serta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
Pembentukan tim dilatarbelakangi oleh pemenuhan kebutuhan batu bara yang belum rampung. Saat ini, total volume pasokan yang diperlukan pembangkit listrik mencapai 154 juta ton per tahun.
Pemerintah telah menugaskan sejumlah perusahaan tambang batu bara nasional untuk menyuplai sekitar 190 juta ton.
Namun, dari kebutuhan 154 juta ton, baru 134 juta ton yang terkontrak, sehingga masih ada kekurangan 20 juta ton.
"Artinya, dari total kebutuhan PLN 154 juta yang sudah dikontrak 134 berarti tinggal kurang 20 yang belum dikontrakkan," ujar Bahlil dalam Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI.
Sebelum rapat dengan DPR, Bahlil menggelar pertemuan intensif dengan jajaran direksi PLN, termasuk Direktur Utama Darmawan Prasodjo. Agenda berlangsung hampir 5,5 jam untuk merekonfirmasi pasokan.
Bahlil mengakui bahwa PLN membutuhkan batu bara kalori sedang, namun ketersediaan sumber daya dengan spesifikasi tersebut semakin terbatas.
