Nilai tukar rupiah di pasar luar negeri melemah 0,45 persen ke posisi Rp17.974 per dolar AS pada Rabu (10/6/2026) pukul 07.17 WIB.
Pelemahan ini dipicu oleh peningkatan ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.
Sebelumnya, rupiah sempat stagnan di level Rp17.899 per dolar AS pada pembukaan perdagangan pasar Non-Deliverable Forward (NDF).
Tekanan eksternal meningkat seiring kenaikan indeks dolar AS ke posisi 99,98 dan lonjakan harga minyak mentah Brent sebesar 1,73 persen menjadi US$93,03 per barel.
Lonjakan harga minyak terjadi pascaserangan militer AS terhadap Iran di lepas pantai Oman.
Untuk meredam depresiasi, Bank Indonesia secara mengejutkan telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen di luar jadwal reguler.
Langkah pengetatan moneter ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa bank sentral aktif menjaga stabilitas, meskipun pasar merespons dengan catatan karena kinerja rupiah telah merosot 2,6 persen sejak kenaikan suku bunga Mei lalu.
Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson menilai intervensi moneter tersebut belum cukup kuat untuk memulihkan kepercayaan pasar secara penuh tanpa adanya perubahan kebijakan pemerintah yang kredibel.
"Kecuali pemerintah melakukan perubahan kebijakan yang kredibel dan mampu secara signifikan mengurangi risiko investasi yang terakumulasi," kata Henderson dalam catatannya.
Pihaknya memproyeksikan Bank Indonesia perlu menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin pada Rapat Dewan Gubernur yang dijadwalkan pada 18 Juni mendatang.
Ekonom PT Bank Permata Tbk Faisal Rachman memprediksi bank sentral masih akan melanjutkan tren kenaikan suku bunga pada triwulan ketiga tahun ini.
"Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan menjaga stabilitas makroekonomi dan pasar keuangan," kata Faisal.
Kenaikan tersebut diperkirakan sebesar 25 basis poin sehingga suku bunga acuan akan menyentuh level 5,75 persen.
Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas Lionel Priyadi memproyeksikan kebijakan moneter yang jauh lebih agresif pada pertemuan pertengahan Juni.
"Kami memperkirakan Bank Indonesia akan kembali mengumumkan kenaikan suku bunga pada 18 Juni mendatang sebesar 50 basis poin (bps), sehingga BI Rate menjadi 6%," sebut Lionel.
Berdasarkan analisis teknikal, rupiah hari ini masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan menuju level resistance potensial di kisaran Rp17.950 hingga menembus Rp17.900 per dolar AS.
Tingkat support psikologis berada di posisi Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS.
