Investor asing kembali melepas saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam sepekan terakhir, nilai jual bersih mencapai Rp 2,2 triliun.
Data Stockbit Sekuritas per Senin (1/6/2026) menunjukkan transaksi tersebut terjadi di pasar reguler BEI pada 25-29 Mei 2026.
BBCA menjadi saham dengan net sell terbesar kedua di bursa.
Posisi pertama ditempati PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan net sell Rp 2,4 triliun.
Sementara PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) berada di bawah BBCA dengan net sell Rp 1,99 triliun.
Dampak pada Harga Saham
Tekanan jual asing langsung mempengaruhi harga saham BBCA. Pada penutupan Jumat (29/5/2026), saham BBCA turun 4,6% ke level Rp 5.700.
Dalam sepekan, saham BBCA melemah 3,39%. Secara bulanan turun 5%, dan secara year to date (ytd) anjlok 29,4%.
Secara keseluruhan, investor asing mencatat total net sell Rp 12,3 triliun di seluruh pasar BEI dalam sepekan.
Angka ini melanjutkan tren divestasi setelah pekan sebelumnya juga terjadi jual bersih Rp 807,6 miliar.
Rekomendasi MNC Sekuritas
MNC Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA. Namun, target harga diturunkan dari Rp 10.500 menjadi Rp 8.700.
Dengan harga saat ini, potensi kenaikan diperkirakan mencapai 52,6%. Target baru tersebut mencerminkan valuasi PBV 3,4 kali untuk 2026 dan 3 kali untuk 2027.
Penyesuaian ini sejalan dengan revisi cost of equity (CoE) menjadi 7,5%. MNC Sekuritas memproyeksikan ketahanan laba BBCA tetap terjaga berkat pertumbuhan PPOP, efisiensi, dan permodalan yang kokoh.
Fundamental kuat dinilai mampu menopang BBCA dari tekanan jangka pendek pada NIM. Namun, risiko seperti perlambatan kredit dan situasi ekonomi makro perlu dicermati.
