CEO Chevron Mike Wirth memperingatkan bahwa eskalasi konflik yang melibatkan Iran dapat memblokir Selat Hormuz. Hal ini berpotensi memicu kelangkaan bahan bakar fisik di pasar global.
Peringatan tersebut disampaikan Wirth dalam acara Milken Institute pada 4 Mei lalu, seperti dilaporkan Detik Finance.
Selat Hormuz merupakan jalur maritim kritis bagi pasokan energi dunia. Wirth menekankan bahwa stabilitas pasokan saat ini hanya bertumpu pada cadangan strategis nasional yang terbatas.
"Kita akan mulai melihat kelangkaan fisik," ujar Wirth.
Eksekutif energi itu mencatat bahwa stabilisasi ekonomi global saat ini sepenuhnya bergantung pada surplus sementara dan stok darurat nasional.
"Perekonomian harus melambat," kata Wirth.
Ia membandingkan potensi dampak blokade parsial atau total Selat Hormuz dengan krisis energi parah pada tahun 1970-an. "Potensinya sebesar tahun 1970-an," ujarnya.
Pada periode tersebut, pemotongan produksi dan embargo memaksa penghematan BBM ketat serta antrean panjang di pompa bensin.
Pimpinan perusahaan energi besar lainnya disebut sejalan dengan penilaian Wirth mengenai krisis geopolitik ini.
