Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan sebesar 17,09 persen dalam sepekan terakhir ke level 6.254,96 pada penutupan perdagangan Senin (15/6/2026).
Penguatan ini terjadi di tengah penantian pasar terhadap keputusan tinjauan indeks global MSCI dan FTSE.
>>> Meta Investasi Rp 248 Triliun Gandeng Pakar AI Alexandr Wang
Meskipun indeks saham domestik melonjak tajam setelah menyentuh posisi terendah 5.342,13 pada Senin (8/6/2026), pasar modal Indonesia masih mencatatkan aksi jual bersih investor asing sebesar Rp105,86 miliar pada perdagangan kemarin.
Sepanjang tahun 2026, aksi jual bersih investor asing mencapai Rp67,34 triliun.
Faktor Pendorong dan Risiko
Head of Research Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan, menilai penguatan indeks belum mencerminkan kembalinya kepercayaan pemodal internasional.
Pasar masih mencermati hasil peninjauan MSCI dan FTSE yang dijadwalkan pada 19 Juni mendatang.
“Rebound signifikan IHSG tidak serta-merta berarti kembalinya dana asing ke dalam negeri,” ungkap Valdy.
Ia menambahkan bahwa pergerakan indeks ke depan akan sangat dipengaruhi oleh sentimen dari peninjauan aksesibilitas pasar global dan penataan ulang bobot indeks tersebut.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan kebangkitan harga saham emiten besar dipicu oleh valuasi yang sudah sangat murah setelah mengalami penurunan tren yang dalam pada periode sebelumnya.
“Dengan adanya saham-saham yang sudah terkoreksi cukup signifikan, begitupun juga terdapat katalis positif dari meredanya risiko geopolitik global, maka valuasi saham-saham tersebut sudah sangat menarik bagi investor untuk melakukan akumulasi,” ungkap Nafan.
Nafan berpendapat berkurangnya sikap menghindari risiko dari investor global dapat membuka peluang masuknya arus modal asing secara berkelanjutan jika stabilitas ekonomi domestik tetap terjaga.
>>> Komisi XI DPR Panggil Kemenkeu dan Danantara Bahas Underinvoicing Ekspor
Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, memberikan pandangan bahwa posisi IHSG saat ini sudah berada dalam fase jenuh jual ketika menembus level 5.400 sehingga wajar mengalami pemulihan.
“IHSG sendiri memang sudah oversold disaat menyentuh 5.400 an dan saat ini sedang dalam fase rebound,” ungkap Wawan.
Namun, Wawan mengingatkan pasar saham domestik tetap berisiko menghadapi aksi ambil untung jika muncul sentimen negatif dari pertemuan FOMC atau peningkatan kembali ketegangan geopolitik global.
Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, menjabarkan bahwa pemicu utama pergerakan IHSG adalah MSCI Market Accessibility Review karena besarnya dana kelolaan pasif global yang mengacu pada indeks tersebut.
“Jika kita lihat dari sisi dana kelolaan, MSCI menjadi yang signifikan dengan estimasi AUM 250 juta dollar AS hanya dari passive fund,” ujar Faris.
Sementara untuk indeks FTSE, Faris menilai dampaknya terhadap aliran dana ke pasar saham Indonesia cenderung tidak terlalu besar.
Faris juga memproyeksikan potensi penurunan indeks jika hasil keputusan lembaga global tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi para pelaku pasar.