Wakil Menteri Pertanian Sudaryono membantah tuduhan bahwa dirinya sengaja meninggalkan forum diskusi di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Senin (15/6/2026).
Ia menegaskan tidak kabur untuk menghindari dialog dengan kalangan mahasiswa.
>>> Harga Emas Antam 16 Juni 2026 Kokoh di Rp 2.729.000, Berpotensi Tembus Rp 3 Juta
Aksi penolakan dari sekelompok peserta memicu situasi tidak kondusif setelah diskusi berjalan sekitar 30 hingga 40 menit.
Sudaryono hadir dalam agenda tersebut bersama Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid serta Budiman Sudjatmiko.
Pihak keamanan akhirnya menyarankan para pejabat tersebut untuk meninggalkan lokasi karena situasi yang kian memanas.
Meski demikian, Sudaryono menyatakan bahwa kehadiran mereka sejak awal justru untuk membuka ruang komunikasi yang demokratis.
"Kami datang ke UGM memang untuk berdiskusi. Acara ini sudah direncanakan sejak lama dan mendapat izin dari kampus.
Kami hadir untuk berdialog dan menerima berbagai pertanyaan maupun kritik," kata Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.
>>> Pemerintah Kumpulkan Rp23,5 Triliun dari Pajak Ekstensifikasi per Mei 2026
Suasana di dalam ruangan mulai tidak searah ketika ada penolakan dari sebagian peserta, walaupun mayoritas mahasiswa yang hadir sebenarnya masih ingin melanjutkan jalannya tanya jawab.
"Kami sebenarnya ingin terus berdialog. Tetapi kemudian ada kelompok yang menginginkan forum dihentikan sehingga suasana menjadi tidak kondusif," ujar Sudaryono.
Ketegangan fisik juga sempat terjadi di tengah ruangan sebelum para pembicara dievakuasi keluar dari area utama oleh petugas pengamanan.
"Saya merasa ada yang memukul saya dan ada pelemparan air. Karena kondisi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar," kata Sudaryono.
Setelah berhasil keluar dari gedung GIK UGM, Sudaryono mengklaim langsung berinisiatif menemui kembali kelompok mahasiswa yang mencarinya untuk duduk bersama di luar ruangan.
"Kalau ada yang mengatakan kami kabur, itu tidak tepat. Justru saat dicari mahasiswa, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan diskusi," tegas Sudaryono.
>>> Harga Bitcoin dan Emas Melonjak Dipicu Kesepakatan Damai AS-Iran
Dalam pertemuan di luar gedung tersebut, sejumlah perwakilan mahasiswa memanfaatkan momen untuk menyampaikan kritik tajam terkait kasus-kasus pertanahan dan isu penggusuran.
"Kalau memang ada persoalan agraria atau penggusuran, mari kita cek bersama. Saya siap datang langsung ke lokasi untuk melihat dan memverifikasi persoalan tersebut," ujar Sudaryono.
Ia menambahkan bahwa pemerintahan di bawah Presiden Prabowo Subianto menghormati kebebasan berpendapat, selama semua pihak bisa saling menghargai perbedaan pandangan.
"Kalau ada yang kurang tepat, tentu bisa diperbaiki. Itu bagian dari demokrasi.
Semua pihak berhak menyampaikan pendapat, tetapi juga harus menghormati pendapat orang lain," kata Sudaryono.
Sudaryono menutup keterangannya dengan menyampaikan rasa bersalah kepada mahasiswa lain yang terganggu kenyataannya dalam menyerap informasi akibat insiden tersebut.
>>> Harga Emas Dunia Menguat Jelang Kesepakatan Damai AS-Iran
"Kami siap jika diundang kembali untuk berdiskusi, baik di Yogyakarta maupun Jakarta. Yang penting ruang dialog tetap terbuka," ujar Sudaryono.
