Dosen Teknologi Hasil Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Indun Dewi Puspita, menyebut ikan gabus berpotensi menjadi superfood.
Kandungan proteinnya lebih tinggi dibandingkan jenis ikan air tawar lainnya.
Hal itu disampaikan pada Senin (15/6/2026).
Kadar protein ikan gabus berkisar antara 23 hingga 25 persen, melampaui rata-rata sumber protein hewani yang berada di angka 20 persen.
Indun mengakui ikan gabus bukan ikan yang umum dikonsumsi masyarakat. Ikan ini memiliki segmen pasar tersendiri.
Pencarian masyarakat terhadap ikan gabus sering didasari oleh tingginya kandungan albumin. Albumin adalah protein penting untuk regenerasi sel, menjaga keseimbangan cairan darah, serta mendistribusikan vitamin dan mineral.
Habitat asli ikan gabus di rawa atau perairan berlumpur yang minim oksigen memicu adaptasi menghasilkan albumin dalam jumlah tinggi.
"Biasanya orang-orang mencari albumin, misalnya setelah operasi. Albumin dapat membantu mempercepat regenerasi sel," kata Indun.
Komoditas air tawar ini juga menyimpan nutrisi lain seperti vitamin, mineral, dan asam lemak tak jenuh omega-3.
Kandungan tersebut dinilai lebih unggul daripada mayoritas ikan air tawar, meski masih di bawah ikan laut.
Terkait ekstrak ikan gabus di pasaran, Indun menekankan pemenuhan nutrisi secara utuh tidak akan sama dengan mengonsumsi ikannya langsung.
"Kalau mengonsumsi ikannya langsung, kita bisa mendapatkan nutrisi-nutrisi lainnya," ujarnya.
Kerusakan kandungan protein dan zat gizi lain dapat dicegah dengan menghindari suhu terlalu tinggi saat pengolahan. Cara terbaik mengonsumsi ikan ini adalah dengan dikukus atau direbus menjadi sup.
