⌂ Beranda News Diaspora Iran Terpecah Jelang Laga Piala Dunia 2026 di Los Angeles

Diaspora Iran Terpecah Jelang Laga Piala Dunia 2026 di Los Angeles

Diaspora Iran Terpecah Jelang Laga Piala Dunia 2026 di Los Angeles
Diaspora Iran terpecah saat Piala Dunia 2026 di Los Angeles
A A Ukuran Teks16px

Ketegangan politik antara Amerika Serikat dan Iran memicu perpecahan mendalam di kalangan diaspora Iran di Los Angeles, California, saat tim nasional Iran menahan imbang Selandia Baru 2-2 pada laga perdana Piala Dunia 2026, Senin, 16 Juni 2026.

Kawasan Los Angeles yang dikenal sebagai "Tehrangeles" merupakan rumah bagi komunitas diaspora Iran terbesar di dunia.

>>> Penjualan Mobil LCGC Anjlok 22,8 Persen pada Januari-Mei 2025

Sebagian besar warganya menentang pemerintah Iran saat ini, namun sebagian tetap mendukung tim nasional mereka yang dijuluki Team Melli.

Pertandingan ini menjadi momen krusial karena untuk pertama kalinya negara yang sedang terlibat konflik bersenjata bertanding di wilayah negara lawan politiknya, menyusul eskalasi perang sejak Februari lalu.

Dukungan dan Patriotisme

Dukungan terhadap tim nasional diperlihatkan oleh sejumlah warga yang berkumpul di beberapa restoran lokal untuk menyaksikan pertandingan bersama keluarga mereka.

"Ini tentang sekelompok anak muda yang bermain olahraga," kata Rene Mitchell, seorang dokter gigi. Mitchell membawa ketiga putranya ke Flame Persian Restaurant untuk menyaksikan pertandingan tersebut.

"Politik tidak ada hubungannya dengan ini," kata Rene Mitchell.

Sentimen patriotisme juga dirasakan oleh kelompok pendukung lain yang tetap antusias bersorak di dalam kafe sepanjang jalannya laga.

"Saya sebenarnya tidak terlalu mengikuti olahraga," kata Parisi, seorang imigran asal Iran yang menolak menyebutkan nama belakangnya.

Ia menegaskan bahwa kecintaan terhadap negara dan tim nasional melampaui ketertarikannya pada dunia olahraga.

"Tetapi kami patriotik. Kami mencintai negara kami.

Kami mencintai tim kami," kata Parisi.

Penolakan dan Boikot

Di sisi lain, penolakan keras datang dari kelompok oposisi yang menganggap Team Melli sebagai representasi dari rezim pemerintah Iran yang berkuasa saat ini.

>>> Pemerintah Pantau Harga Minyak Dunia Pasca-Redanya Konflik AS-Iran

"Pihak yang kalah adalah rakyat Iran," kata Roozbeh Farahanipour, mantan pemimpin pemberontakan mahasiswa tahun 1999. Farahanipour yang kini mengelola restoran di Westwood Boulevard memilih untuk memboikot pertandingan tersebut.

"Saya tidak bisa menghormati lagu kebangsaan atau seragam Republik Islam," kata Roozbeh Farahanipour.

Ia menegaskan komitmennya untuk tidak menonton laga tersebut atau beralih mendukung tim lawan.

"Sikap saya jelas: saya tidak menonton, atau saya mendukung tim lawan," kata Roozbeh Farahanipour.

Kekhawatiran akan dampak polarisasi ini juga dirasakan oleh pelaku usaha lokal, seperti Hossein Daei pemilik Farsi Cafe yang memilih tidak menggelar acara nonton bareng karena takut akan aksi perusakan.

"Saya takut orang akan memecahkan jendela dan merusak bisnis saya," kata Hossein Daei.

Ketakutan tersebut didasarkan pada situasi komunitas yang dinilainya sudah sangat terfragmentasi.

"Orang-orang dari Iran sekarang terpecah," kata Hossein Daei.

Guna mengantisipasi demonstrasi dan potensi bentrokan dari massa yang membawa bendera simbol pra-Revolusi 1979, aparat penegak hukum setempat telah bersiaga penuh di sekitar stadion berkapasitas 70.000 penonton tersebut.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru