⌂ Beranda News Prabowo Terima Presiden Jerman di Istana Merdeka, Bahas Perdamaian Global

Prabowo Terima Presiden Jerman di Istana Merdeka, Bahas Perdamaian Global

Prabowo Terima Presiden Jerman di Istana Merdeka, Bahas Perdamaian Global
Presiden RI Prabowo Subianto menyambut Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier di Istana Merdeka
A A Ukuran Teks16px

Presiden RI Prabowo Subianto menerima kunjungan kenegaraan Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (15/6/2026).

Pertemuan ini menjadi momentum strategis bagi kedua negara untuk mempertegas komitmen dalam menjaga perdamaian dan stabilitas dunia di tengah dinamika geopolitik yang kian kompleks.

>>> Kementerian ESDM Pastikan Mandatori Bioetanol E5 Berlaku Bertahap Mulai Juli 2026

Kunjungan tersebut bertujuan memperkuat hubungan kemitraan strategis antara Indonesia dan Jerman. Fokus kemitraan mencakup bidang bisnis, energi, iklim, perekrutan tenaga kerja terampil, hingga budaya.

Kesamaan Pandangan soal Dialog

Dalam keterangan persnya, Presiden Prabowo menekankan Indonesia dan Jerman memiliki kesamaan pandangan mengenai pentingnya mengedepankan dialog sebagai instrumen utama penyelesaian masalah.

“Presiden Steinmeier dan saya sependapat seluruh konflik harus diselesaikan melalui perundingan. Kami bekerja sama di jalur diplomasi untuk memastikan perdamaian dan stabilitas global tetap terjaga,” ujar Presiden Prabowo.

Lebih lanjut, Presiden Prabowo menegaskan Jerman merupakan mitra yang krusial bagi Indonesia. Hal ini mengingat peran strategis negara tersebut dalam menjaga keseimbangan tatanan internasional.

Senada dengan Presiden Prabowo, Presiden Steinmeier mengakui dunia saat ini sedang berada dalam fase tantangan yang berat.

Situasi global diwarnai mulai dari perang di Eropa, konflik di Timur Tengah, hingga krisis kemanusiaan di berbagai belahan dunia.

>>> Melanie Martinez Berduka Atas Kematian Oliver Tree dalam Kecelakaan Helikopter

Dalam menghadapi situasi tersebut, ia menegaskan Indonesia dan Jerman berdiri pada prinsip yang sama. Kedua negara berkomitmen menjunjung tinggi hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Kawasan Eropa dan Asia Pasifik, situasi di sana hanya bisa dipikirkan dan diselesaikan secara bersama melalui perundingan,” ungkap Steinmeier.

ASEAN Sebagai Pilar Stabilitas Kawasan

Selain isu global, kedua pemimpin juga menyoroti arsitektur keamanan di kawasan Indo Pasifik. Steinmeier menegaskan posisi Jerman yang memandang ASEAN sebagai pilar vital bagi stabilitas kawasan.

Ia secara khusus memberikan apresiasi atas peran aktif Indonesia dalam menjaga ketenangan di Asia Tenggara.

“Indonesia merupakan faktor stabilitas penting di dalam ASEAN.

Kami melihat Indonesia tidak hanya yakin akan peran itu, tetapi juga terus mengembangkan peran penting tersebut secara berkelanjutan,” tambahnya.

>>> IHSG Diproyeksi Bergerak di Rentang 6.150-6.400 pada Rabu

Melalui kemitraan yang semakin erat ini, Indonesia dan Jerman berharap dapat menjadi motor penggerak bagi negara-negara lain.

Hubungan ini diharapkan mendorong negara lain untuk terus mengedepankan perdamaian di atas segala bentuk perselisihan.

Hubungan bilateral antara Indonesia dan Jerman telah terjalin selama puluhan tahun dengan fondasi kerja sama yang kuat di berbagai sektor, termasuk ekonomi, pendidikan, dan pertahanan.

Jerman merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia di Eropa, sementara Indonesia dipandang sebagai jangkar stabilitas politik di kawasan Asia Tenggara.

Di tengah ketidakpastian kondisi global akibat berbagai konflik bersenjata dan pergeseran kekuatan geopolitik dalam beberapa tahun terakhir, koordinasi antara Jakarta dan Berlin menjadi semakin relevan.

Kunjungan Presiden Steinmeier ke Jakarta pada 2026 ini merefleksikan keinginan kedua negara untuk tidak sekadar memperkuat hubungan ekonomi.

>>> 11 Kebiasaan Pemilik IQ Tinggi yang Bisa Kembangkan Kemampuan Berpikir

Pertemuan ini menegaskan peran aktif kedua negara sebagai penyeimbang dalam tatanan dunia yang berbasis pada hukum internasional dan semangat multilateralisme.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru