⌂ Beranda News Kebijakan Pemerintah Dongkrak Kepercayaan Investor Asing terhadap IHSG dan Rupiah

Kebijakan Pemerintah Dongkrak Kepercayaan Investor Asing terhadap IHSG dan Rupiah

Kebijakan Pemerintah Dongkrak Kepercayaan Investor Asing terhadap IHSG dan Rupiah
Kebijakan Pemerintah Dongkrak Kepercayaan Investor Asing terhadap IHSG dan Rupiah
A A Ukuran Teks16px

Persepsi investor asing terhadap pasar modal Indonesia menunjukkan tren yang membaik. Hal ini terjadi setelah pemerintah meluncurkan sejumlah inisiatif kebijakan.

Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah menjadi indikator kembalinya sentimen positif.

>>> 7 Resep Menu Hemat Keluarga yang Lezat dan Praktis untuk Bunda

"Penguatan pasar modal dan rupiah tidak akan terjadi kalau kita tidak melakukan apa-apa," kata Rosan di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/6/2026).

Sentimen positif diperoleh setelah CEO BPI Danantara Rosan Roeslani melakukan safari bisnis ke 112 investor global. Kegiatan ini berlangsung di berbagai pusat keuangan dunia sejak awal Juni 2026.

Kota besar yang dikunjungi meliputi Hong Kong, Singapura, Boston, London, hingga New York.

Agenda ini berjalan setelah Danantara mendapatkan peringkat kredit dari Moody's, S&P, dan Fitch yang setara dengan sovereign rating Indonesia.

Melalui safari bisnis tersebut, Danantara berhasil mengamankan penerbitan obligasi global perdana senilai US$1,5 miliar.

Surat utang global tersebut terbagi dalam dua seri dengan porsi masing-masing US$750 juta.

Seri pertama memiliki tenor lima tahun dengan imbal hasil 5,35%. Seri kedua memiliki tenor 10 tahun dengan imbal hasil 5,95%.

>>> Pratama Arhan dan Inka Andestha Tunjukkan Kedekatan di TikTok

Untuk obligasi tenor lima tahun, spread tercatat 32 basis poin di atas kurva sekunder obligasi pemerintah. Sementara tenor 10 tahun berada di posisi 34 basis poin.

"Pada saat mereka melihat yang dilakukan Danantara dan kebijakannya, ini membalikan momentum persepsi yang ada," kata Danantara.

Investor yang menanamkan modal dalam global bond Danantara berasal dari Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia.

Pada tenor lima tahun, porsi terbesar dikuasai investor Eropa dan Timur Tengah dengan 41%, diikuti Amerika Serikat 38% dan Asia 21%.

Untuk tenor 10 tahun, investor asal Amerika Serikat mendominasi sebesar 52%. Disusul Eropa dan Timur Tengah 31%, serta Asia 17%.

IHSG Melonjak dan Rupiah Stabil

IHSG menutup perdagangan Senin (15/6/2026) di zona hijau dengan lonjakan 4,12% ke level 6.254.

Bahkan sempat menyentuh posisi tertinggi di angka 6.345 pada siang hari.

Volume perdagangan saham mencapai 54,61 miliar lembar dengan total nilai transaksi Rp30,14 triliun dari frekuensi 3,25 juta kali.

>>> Oppo A55 5G Rp1 Jutaan di 2026: Masih Layakkah?

Sebanyak 603 saham menguat, 125 saham melemah, dan 90 saham stagnan.

Performa ini menempatkan IHSG di jajaran teratas sekaligus peringkat keempat di bursa saham kawasan Asia.

Sektor barang baku memimpin penguatan 7,26%, diikuti sektor keuangan 5,24% dan sektor perindustrian 4,51%.

Di sisi lain, rupiah membuka perdagangan di pasar luar negeri pada level Rp17.712/US$ di tengah sikap wait and see.

Kondisi ini bertepatan dengan kenaikan tipis harga minyak 0,5% ke US$83,59 per barel pada Selasa (16/6/2026) pukul 07:45 WIB.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah tekanan pasar mereda. Kekhawatiran atas potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah berkurang.

Pelaku pasar merespons positif langkah pemerintah yang berencana menyesuaikan anggaran pada proyek strategis. Termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

>>> Qatar Komit Investasi US$4 Miliar ke Indonesia, Siap Perkuat Sektor Strategis

Langkah komunikasi pemerintah terkait efisiensi anggaran dinilai sebagai sinyal kuat. Kedisiplinan fiskal tetap menjadi prioritas utama.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru