CEO BPI Danantara Rosan Perkasa Roeslani memberikan penjelasan terkait sorotan lembaga pemeringkat global terhadap laporan keuangan lembaganya.
Proses konsolidasi yang melibatkan banyak entitas menjadi alasan utama keterlambatan tersebut.
>>> Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan 16 Juni 2026, Ini Alasannya
"Ini kan kita mengkonsolidasikan seribu perusahaan lebih," kata Rosan di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Manajemen BPI Danantara telah menyerahkan data kinerja keuangan kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). BPK bertindak sebagai lembaga audit pengelola dana investasi negara.
Keterbukaan data juga dilakukan saat kunjungan kepada investor domestik dan global.
"Pada saat kita melakukan road show kan juga ada data-data kita kasih tahu mereka, mereka juga enggak mungkin investasi tanpa melihat keuangan kita," tuturnya.
Sebelumnya, Moody's Ratings menetapkan peringkat kredit Baa2 untuk PT Danantara Investment Management (DIM) dengan outlook negatif.
Lembaga tersebut juga memberikan peringkat provisional (P)Baa2 untuk program global medium-term note (MTN) tanpa jaminan milik DIM.
>>> Dani Olmo Targetkan Spanyol Juara Piala Dunia
"Peringkat Baa2 dengan outlook negatif untuk Danantara Investment Management sejalan dengan peringkat sovereign Indonesia karena didukung hubungan kredit yang kuat," kata Wakil Presiden dan Analis Senior Moody's Ratings Rachel Chua dalam laporannya, Rabu (3/6/2026).
S&P Global Ratings memberikan peringkat kredit penerbit jangka panjang ‘BBB’ dan jangka pendek ‘A-2’ kepada DIM dengan outlook stabil.
"Kami dapat menurunkan peringkat DIM apabila kami mengambil tindakan serupa terhadap peringkat sovereign Indonesia," tulis S&P dalam laporannya, Rabu (3/6/2026).
PT Danantara Investment Management (DIM) baru saja merilis obligasi internasional perdana senilai US$1,5 miliar atau sekitar Rp26,7 triliun.
Instrumen utang ini memperoleh respons positif dari pasar internasional. Nilai pemesanan mencapai US$4,6 miliar, lebih dari tiga kali lipat nilai yang diterbitkan.
>>> Fox Resmi Akuisisi Roku Senilai 22 Miliar Dolar AS
"Kepercayaan yang diberikan pasar internasional ini juga diharapkan dapat memperkuat keyakinan investor domestik dan masyarakat luas terhadap kekuatan kerangka institusional Danantara Indonesia," tulis manajemen Danantara dalam siaran pers pada Jumat (12/6/2026).
Surat utang global ini terbagi menjadi dua seri dengan nominal masing-masing US$750 juta.
Seri pertama tenor lima tahun dengan imbal hasil 5,35%, seri kedua tenor 10 tahun dengan imbal hasil 5,95%.
Kedua seri obligasi berhasil memperoleh spread yang ketat terhadap kurva obligasi negara Republik Indonesia.
Tenor lima tahun berada pada 32 basis poin di atas kurva sekunder obligasi pemerintah, tenor 10 tahun pada 34 basis poin.
Alokasi investor untuk obligasi tenor lima tahun didominasi dari Eropa, Timur Tengah, dan Afrika sebesar 41%, diikuti Amerika Serikat 38%, dan Asia 21%.
>>> Belgia Hadapi Mesir pada Laga Pembuka Piala Dunia 2026
Untuk tenor 10 tahun, investor Amerika Serikat mendominasi sebesar 52%, disusul Eropa, Timur Tengah, dan Afrika 31%, serta Asia 17%.
