⌂ Beranda News Riset Prasetiya Mulya Temukan AI Citation Gap, Website Resmi Kalah Saing

Riset Prasetiya Mulya Temukan AI Citation Gap, Website Resmi Kalah Saing

Riset Prasetiya Mulya Temukan AI Citation Gap, Website Resmi Kalah Saing
Ilustrasi AI Citation Gap dalam riset Universitas Prasetiya Mulya
A A Ukuran Teks16px

Fenomena AI Citation Gap ditemukan dalam riset terbaru Universitas Prasetiya Mulya.

Kondisi ini terjadi ketika kecerdasan buatan merekomendasikan suatu merek, tetapi sumber kutipan berasal dari situs pihak lain, bukan laman resmi perusahaan.

>>> Kesepakatan Damai AS-Iran Kurangi Beban Subsidi APBN

Studi berjudul AI Citation Audit ini digarap oleh Dedy Budiman, M. Pd.

, Doctoral Candidate Universitas Prasetiya Mulya sekaligus praktisi pengembangan sales. Kajian ini menyoroti pergeseran perilaku konsumen yang mulai meninggalkan mesin pencari konvensional demi jawaban instan dari AI.

Dalam dinamika ini, sistem AI memegang kendali sebagai kurator yang menentukan kredibilitas sumber informasi. Akibatnya, platform digital milik perusahaan kerap terabaikan.

Melalui metode audit pada Google AI Mode, riset melibatkan 32 responden dengan 16 prompt standar di industri properti.

Terkumpul 1.842 URL dari 222 domain unik.

Hasil analisis menunjukkan AI lebih sering merujuk pada media sosial, marketplace, blog komparatif, dan situs internasional. Sebanyak 61,8 persen sumber informasi berasal dari domain non-Indonesia.

Kesenjangan konten menjadi akar utama masalah.

>>> Keito Nakamura Pakai Pelindung Kaki Sesuai Aturan IFAB di Piala Dunia

Sebagian besar website resmi korporasi dinilai kaku karena hanya menyajikan katalog digital, padahal konsumen membutuhkan materi edukasi mendalam.

"Konsumen tidak selalu mencari nama seri produk. Mereka bertanya mana yang terbaik, apa perbedaannya, bagaimana memilih yang tepat, berapa kisaran harganya, atau apa keunggulannya.

Jika pertanyaan itu tidak dijawab website resmi, AI akan mencari jawabannya di tempat lain," ungkap Dedy Budiman.

Strategi AI Visibility Optimization

Untuk mengatasi tantangan ini, Dedy memperkenalkan pendekatan AI Visibility Optimization (AIVO).

Formula ini berfokus pada cara agar merek dipahami dan direpresentasikan secara akurat oleh AI melalui konten edukasi komprehensif.

Langkah ini berbeda dengan SEO konvensional yang hanya menitikberatkan keterbacaan web oleh mesin pencari. Tolok ukur performa digital kini bergeser melampaui trafik semata.

>>> Efek Relativistik Jadi Alasan Merkuri Tetap Cair pada Suhu Kamar

"Bukan sekadar agar terlihat di internet, tetapi informasi tentang brand tetap akurat, kredibel, dan relevan ketika AI menjadi perantara utama antara konsumen dan informasi," tambah Dedy.

Penelitian ini mendapat respons positif dari Co Provost 1 Universitas Prasetiya Mulya, Dr.rer. pol.

Christiana Yosevina. Selaku dosen pembimbing, ia menilai perubahan pola ini menuntut korporasi memetakan ulang strategi komunikasi.

"Tantangan perusahaan tidak lagi sekadar ditemukan secara online, tetapi juga dipahami dengan benar oleh AI.

Temuan AI Citation Gap menunjukkan kualitas konten dan kredibilitas sumber menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan konsumen.

Konten edukatif dan relevan akan menjadi kunci agar organisasi tetap dipercaya," pungkas Christiana.

Kehadiran konsep AI Citation Gap dan strategi AIVO dari program doktoral Universitas Prasetiya Mulya diharapkan menjadi panduan bagi pelaku usaha.

>>> Waskita Karya Catat 7,5 Juta Jam Kerja Selamat di Proyek LRT Jakarta 1B

Implementasi strategi tepat akan menjaga posisi merek tetap kompetitif di era pencarian berbasis AI.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru