Pasar keuangan Asia mengalami lonjakan besar pada perdagangan Senin (15/6/2026). Sentimen positif ini muncul setelah pengumuman kesepakatan tentatif untuk mengakhiri konflik bersenjata antara AS dan Iran.
Kesepakatan tersebut meliputi rencana pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur perdagangan laut yang sangat vital itu sebelumnya menjadi pusat ketegangan militer kedua negara.
>>> Kesepakatan Damai AS-Iran Kurangi Beban Subsidi APBN
Perkembangan ini langsung memicu respons positif di berbagai bursa saham utama Asia.
Bursa Tokyo melalui indeks Nikkei 225 memimpin penguatan dengan melonjak 5,4% hingga menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah di level 69.603,91.
Kenaikan signifikan juga terjadi di Korea Selatan. Indeks Kospi melonjak sebesar 4,9% sebagaimana dihimpun dari Associated Press.
Investor di Asia menyambut baik peluang meredanya hambatan logistik global. Seiring dengan meningkatnya optimisme pasar, harga minyak mentah dunia langsung mengalami koreksi tajam.
Nilai minyak mentah jenis Brent merosot US$ 3,61 menjadi US$ 83,64 per barel.
Sementara minyak mentah acuan AS anjlok US$ 4,27 ke angka US$ 80,61 per barel.
Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah memvalidasi perjanjian awal tersebut. Dirinya juga sudah menerbitkan perintah untuk menyudahi blokade armada angkatan laut AS di sekitar pelabuhan-pelabuhan milik Iran.
>>> Keito Nakamura Pakai Pelindung Kaki Sesuai Aturan IFAB di Piala Dunia
Kendati demikian, pihak Iran menegaskan bahwa penerapan seluruh poin perjanjian baru akan berjalan efektif pasca penandatanganan dokumen resmi.
Agenda tersebut rencananya digelar di Swiss pada Jumat (19/6/2026).
Di sisi lain, para pengamat sektor energi masih menunjukkan sikap waspada.
Stephen Innes dari SPI Asset Management menilai pembukaan Selat Hormuz berfungsi layaknya katup pelepas tekanan bagi pasar global.
Namun, pelaku pasar dinilai masih menanti bukti konkret terkait kepatuhan terhadap poin-poin kesepakatan.
Salah satu poin krusial adalah kelanjutan negosiasi program nuklir Iran yang dijadwalkan dalam kurun waktu 60 hari ke depan.
>>> Efek Relativistik Jadi Alasan Merkuri Tetap Cair pada Suhu Kamar
Dorongan Saham Teknologi dan Kebijakan Finansial
Selain faktor geopolitik, pergerakan pasar saham masih ditopang oleh kinerja positif sektor teknologi. Khususnya emiten berbasis kecerdasan buatan.
Tren ini berlanjut setelah aksi korporasi SpaceX milik Elon Musk yang mencatatkan valuasi US$ 2,1 triliun di Wall Street.
Kini perhatian para pelaku pasar mulai terbagi dengan agenda kebijakan moneter dari sejumlah bank sentral utama dunia.
Bank of Japan (BoJ) diproyeksikan bakal mengerek suku bunga acuan mereka menuju level 1% pada Selasa (16/6/2026).
Langkah BoJ tersebut akan menjadi tingkat suku bunga tertinggi di Jepang dalam lebih dari tiga dekade terakhir.
Sementara itu, Federal Reserve (The Fed) bersama Bank of England (BoE) baru akan mengumumkan keputusan suku bunga pada Kamis.
Konflik berkepanjangan antara AS dan Iran yang pecah sejak akhir Februari 2026 sebelumnya telah membebani roda ekonomi dunia selama lebih dari tiga bulan.
>>> Waskita Karya Catat 7,5 Juta Jam Kerja Selamat di Proyek LRT Jakarta 1B
Penutupan jalur Selat Hormuz sempat memicu gangguan rantai pasok energi yang menaikkan biaya produksi global.