Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melonjak 4,21 persen ke level Rp2.970 pada sesi I perdagangan Senin (15/6/2026).
Lonjakan ini dipicu oleh rencana aksi korporasi pembelian kembali atau buyback saham yang diumumkan perseroan.
Investor asing tercatat melakukan aksi borong dengan net buy mencapai Rp121,4 miliar.
Sebanyak 203,61 juta saham BBRI ditransaksikan dengan frekuensi 23.508 kali. Nilai transaksi keseluruhan mencapai Rp599 miliar.
Rencana Buyback Rp500 Miliar
Manajemen BRI menyatakan buyback akan dilaksanakan mulai 12 Juni hingga 11 September 2026.
Hal ini merujuk pada Peraturan OJK Nomor 13 Tahun 2023 dan Surat OJK Nomor S-10/D. 04/2026.
"Jumlah nilai seluruh buyback diperkirakan sebesar-besarnya Rp500 miliar," tulis manajemen BRI dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia pada Jumat (12/6/2026).
Manajemen memastikan pengalokasian dana tidak akan mengganggu stabilitas keuangan internal perseroan.
Pelaksanaan buyback akan tetap memperhatikan kondisi likuiditas dan permodalan serta mematuhi peraturan yang berlaku.
Penguatan saham BBRI sejalan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat di atas 3 persen.
Sentimen positif domestik dan kabar perdamaian global turut mendorong penguatan IHSG.
Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Pakistan menjadi sentimen eksternal utama.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan kesepakatan tersebut melalui media sosial X pada Minggu (14/6/2026).
"Setelah melalui pembicaraan intensif, kami dengan senang hati mengumumkan Kesepakatan Damai antara AS dan Republik Islam Iran telah TERCAPAI," ujar Sharif.
Gedung Putih juga mengeluarkan pernyataan serupa untuk memastikan penghentian operasi militer dan pembukaan kembali blokade Selat Hormuz.
"Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah rampung," tulis Presiden AS Donald Trump melalui platform Truth Social.
Penandatanganan dokumen damai bilateral dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat (19/6/2026).