⌂ Beranda News Kromosom Y Terancam Lenyap, Picu Risiko Penyakit Serius pada Pria

Kromosom Y Terancam Lenyap, Picu Risiko Penyakit Serius pada Pria

Kromosom Y Terancam Lenyap, Picu Risiko Penyakit Serius pada Pria
Ilustrasi kromosom Y pada pria terkait risiko penyakit
A A Ukuran Teks16px

Kromosom Y, penentu jenis kelamin pria, diperkirakan akan menghilang sepenuhnya dari spesies manusia dalam lima juta tahun ke depan.

Namun, ada persoalan yang lebih mendesak: sejumlah pria mulai kehilangan kromosom Y pada sel darah, otak, dan sistem kekebalan tubuh seiring bertambahnya usia.

>>> Cara Aktifkan DANA Cicil Terbaru 2026 dan Syaratnya

Hilangnya kromosom Y ini berpotensi menimbulkan dampak kesehatan serius. Para peneliti telah mengamati fenomena ini selama beberapa dekade pada pria lanjut usia.

Risiko Penyakit Akibat Hilangnya Kromosom Y

Kromosom Y selama ini tampak seperti penumpang pasif, namun ternyata rentan mengalami mutasi.

Dari total 46 kromosom manusia, kromosom Y adalah satu-satunya yang bisa lenyap tanpa memicu kematian sel.

Meski demikian, hilangnya kromosom tersebut tidak berarti tanpa masalah.

Sebuah penelitian pada 2022 menemukan bahwa hilangnya kromosom Y pada sel imun di jantung tikus menyebabkan gangguan kardiovaskular hingga kematian.

Studi klinis lanjutan menunjukkan pria lanjut usia yang kehilangan kromosom Y memiliki risiko lebih tinggi meninggal dini atau mengidap kanker.

Kehilangan kromosom Y juga dikaitkan dengan infertilitas dan gangguan perkembangan, meski jarang pada usia muda.

>>> Penjualan Motor Domestik Turun 7,98% pada Mei 2026

Pada 2023, peneliti menemukan bahwa hingga 40 persen pria lanjut usia dengan kanker kandung kemih tidak memiliki kromosom Y pada sel tumornya.

Pria memiliki risiko lima kali lebih tinggi terkena kanker kandung kemih dibanding wanita.

Penelitian pada 2025 menemukan bahwa sel imun yang kehilangan kromosom Y menjadi kurang efektif menyerang sel kanker.

Tinjauan ilmiah pada tahun yang sama menyimpulkan bahwa hilangnya kromosom Y berperan penting dalam membentuk aktivitas sistem imun pria.

Kromosom Y baru berhasil dipetakan secara lengkap beberapa tahun lalu, meski hanya mengandung sekitar 0,9 persen total DNA dalam sel pria.

Kemajuan teknologi pengurutan genom membuka era baru penelitian tentang kromosom Y.

Temuan awal menunjukkan kromosom Y mungkin terlibat dalam lebih banyak fungsi seluler dari perkiraan. Namun, penelitian ini masih tahap awal.

>>> Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi dan LPG 3 Kg Tidak Naik

Ahli biologi evolusi Jennifer Hughes meyakini kromosom Y belum tentu lenyap. "Gen-gen yang masih bertahan di kromosom Y memiliki fungsi penting di seluruh tubuh.

Tekanan evolusi untuk mempertahankannya sangat besar," ujarnya.

Sementara itu, ahli biologi evolusi Jenny Graves memiliki pandangan berbeda. Ia sepakat gen pada kromosom Y penting, tetapi gen tersebut bisa dipindahkan ke kromosom lain.

"Tikus berduri dan tikus tanah vole tidak mengalami kesulitan memindahkan atau mengganti gen-gen tersebut," katanya.

Beberapa mamalia memang sudah tidak memiliki kromosom Y. Fungsi penentuan jenis kelamin pada mamalia tersebut diambil alih kromosom lain.

Fenomena ini membuktikan gen dapat berpindah antar-kromosom, sehingga kromosom Y manusia mungkin menuju kepunahan.

Kromosom Y manusia saat ini hanya mempertahankan sekitar 3 persen dari total gen leluhurnya.

>>> Saham Darma Henwa Melonjak 12%, Investor Asing Catat Net Buy Rp27,72 Miliar

Sisa gen yang bertahan kemungkinan menyimpan petunjuk penting terkait kesehatan pria, sejarah evolusi, dan masa depan spesies manusia.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru