⌂ Beranda News Harga Obligasi Pemerintah Naik Signifikan Imbas Penguatan Rupiah 15 Juni 2026

Harga Obligasi Pemerintah Naik Signifikan Imbas Penguatan Rupiah 15 Juni 2026

Harga Obligasi Pemerintah Naik Signifikan Imbas Penguatan Rupiah 15 Juni 2026
Grafik yield Surat Utang Negara Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Pasar obligasi pemerintah Indonesia mengawali pekan dengan positif pada Senin (15/6/2026). Aksi beli mendominasi perdagangan Surat Utang Negara (SUN) seiring rupiah yang terus menguat.

Berdasarkan data Bloomberg, imbal hasil (yield) SUN turun di hampir semua tenor.

>>> Strava Rilis Fitur Baru Khusus Pendaki untuk Navigasi Lebih Baik

Rupiah tercatat menguat 0,84% ke level Rp17.720 per dolar AS pada pukul 09:59 WIB.

Aksi beli terkuat terjadi pada tenor menengah.

Yield tenor 7 tahun turun 26,7 basis poin (bps) dan tenor 8 tahun turun 26,2 bps.

Sementara itu, yield tenor 5 tahun turun 13,8 bps, tenor 11 tahun turun 12,3 bps, dan tenor 4 tahun turun 11,8 bps.

Pada tenor pendek, yield tenor 1 tahun turun tipis 0,6 bps ke 7,2%.

Tenor 2 tahun turun 8,6 bps menjadi 7,18%, dan tenor 3 tahun turun 1,9 bps ke 7,43%.

Tenor acuan 10 tahun juga mengalami penurunan 2,8 bps ke 7,41%.

Namun, tidak semua tenor bergerak seragam.

>>> IHSG Pekan Ini Diprediksi Fluktuatif, Uji Level MA20

Beberapa tenor panjang mencatat kenaikan terbatas, seperti tenor 9 tahun naik 2,2 bps ke 7,36%, tenor 12 tahun naik 0,6 bps ke 7,54%, dan tenor 13 tahun naik 6,1 bps ke 7,48%.

Kondisi ini menunjukkan investor cenderung agresif memburu seri tertentu yang dianggap menawarkan keseimbangan antara imbal hasil dan durasi.

Akibatnya, pergerakan kurva imbal hasil pagi ini lebih beragam.

Obligasi Dolar AS Juga Terkerek

Aksi beli juga mewarnai pasar surat utang pemerintah berdenominasi dolar AS (INDON). Yield INDON turun secara merata di semua tenor.

Berikut rincian penurunan yield obligasi INDON: tenor 2 tahun turun 2,5 bps ke 4,11%, tenor 3 tahun turun 3,1 bps ke 4,44%, tenor 5 tahun turun 3,6 bps ke 4,77%, tenor 7 tahun turun 4,6 bps ke 5,04%, tenor 10 tahun turun 4,9 bps ke 5,39%, dan tenor 30 tahun turun 2,6 bps ke 5,68%.

Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, memproyeksikan aksi beli masih akan berlanjut.

Target imbal hasil SUN tenor 10 tahun diperkirakan berada di rentang 7,25-7,35%, dan INDON 5,35-5,45%.

>>> Zoom Luncurkan AI Productivity Suite untuk Percepat Eksekusi Kerja

Penguatan pasar obligasi sejalan dengan apresiasi rupiah yang memasuki hari kelima. Dukungan juga datang dari faktor eksternal yang mulai mereda.

Di kawasan Asia, mayoritas mata uang menguat.

Peso Filipina memimpin dengan penguatan 1,26%, disusul rupiah 0,89%, dolar Taiwan dan won Korea Selatan masing-masing 0,37%, baht Thailand 0,33%, ringgit Malaysia 0,29%, dolar Singapura 0,19%, yuan offshore 0,08%, serta yuan China dan yen Jepang masing-masing 0,07%.

Penguatan mata uang kawasan ditopang oleh penurunan harga minyak dunia sebesar 4,79% ke US$83,15 per barel.

Hal ini imbas dari meredanya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.

Harga minyak kembali merosot setelah AS dan Iran menyepakati kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang. Kesepakatan tersebut berpotensi membuka kembali Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump menyatakan melalui media sosial bahwa dia mengizinkan pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa pungutan (toll free opening) serta mengakhiri blokade terhadap Iran.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazzem Gharibabadi mengonfirmasi kesepakatan itu telah dicapai. Teks lengkap perjanjian baru akan dipublikasikan setelah penandatanganan di Swiss.

>>> Penyebab Baterai Mobil Listrik Cepat Rusak Akibat Perlakuan Salah

Selat Hormuz dijadwalkan akan dibuka kembali setelah kesepakatan resmi ditandatangani pada Jumat pekan ini.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru