Penggunaan mobil listrik semakin populer, namun pemahaman pemilik tentang perawatan baterai masih rendah. Banyak yang memanfaatkan torsi besar untuk kesenangan berkendara, padahal gaya agresif itu memperpendek umur komponen.
Penggunaan tenaga berlebihan menjadi pemicu awal kerusakan baterai. Komponen ini merupakan bagian paling utama dengan harga mahal.
>>> Cara dan Syarat Mengaktifkan GoPay Pinjam Juni 2026
Kebiasaan Charging yang Keliru
Mengisi daya hingga 100% atau membiarkannya kosong sampai 0% membuat baterai rentan rusak. Sel lithium-ion bekerja optimal pada rentang 20% hingga 80%.
Kebiasaan memanfaatkan Fast Charging DC terus-menerus juga memicu kerusakan. Pengisian cepat menghasilkan suhu tinggi yang mempercepat degradasi sel, sehingga pengisian lambat AC lebih disarankan untuk harian.
>>> Rico Waas Temui Pangdam I/Bukit Barisan Perkuat Sinergi Kota Medan
Pemilik dilarang meninggalkan mobil dalam waktu lama saat baterai penuh atau kosong. Jika tidak digunakan dalam jangka panjang, kapasitas sebaiknya di angka sekitar 50%.
>>> Sektor Migas Paling Banyak Terima Ancaman Siber Kuartal I/2026
Faktor Lingkungan dan Kerusakan Fisik
Memarkir mobil di luar ruangan di bawah terik matahari langsung harus dihindari. Suhu ekstrem dapat memicu panas berlebih yang membuat sel baterai menggelembung dan rawan bocor.
Area kolong tempat baterai rentan terkena benturan keras atau kerikil saat melewati jalan rusak atau banjir. Dampak fisik ini berisiko memicu korsleting atau kebocoran internal.
>>> 5 Rekomendasi Kulkas 1 Pintu Watt Rendah Hemat Listrik
Pemeriksaan sistem manajemen baterai (BMS) sangat penting dilakukan secara berkala. Langkah ini memastikan fungsi pendingin dan kesehatan sel baterai tetap terpantau.