⌂ Beranda News Peneliti Waspadai Harga Bensin E5 Lebih Mahal jika Pasokan Bioetanol Tidak Stabil

Peneliti Waspadai Harga Bensin E5 Lebih Mahal jika Pasokan Bioetanol Tidak Stabil

Peneliti Waspadai Harga Bensin E5 Lebih Mahal jika Pasokan Bioetanol Tidak Stabil
Ilustrasi pompa bensin E5 di SPBU
A A Ukuran Teks16px

Peneliti independen sektor energi Akhmad Hanan mewaspadai harga bensin dengan campuran bioetanol 5% alias E5 bakal lebih mahal dari BBM fosil jika pasokan bioetanol tidak stabil.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, kebutuhan bioetanol untuk program E5 yang mulai dimandatkan pada 1 Juli 2026 sekitar 26.000 kiloliter.

>>> Kota Taif Kembangkan Budidaya Mawar untuk Parfum Mewah Dunia

Saat ini baru terdapat tiga pabrik bioetanol yang mampu memproduksi bioetanol fuel grade.

Akhmad khawatir jika pasokan dari tiga pabrik tersebut terganggu, harga jual E5 bisa melonjak.

"Tantangan utamanya dari pasokan yang terbatas.

Jika pasokan tidak stabil, harga bensin E5 bisa lebih tinggi dibandingkan dengan bensin biasa," kata Akhmad, Senin (15/6/2026).

Ia meyakini SPBU swasta mampu menjalankan program tersebut jika pasokan bioetanol stabil.

Kebutuhan Bioetanol Nasional

Ekonom energi Universitas Padjajaran Yayan Satyakti memprediksi jika program mandatori E5 dijalankan secara nasional, Indonesia membutuhkan bioetanol fuel grade sekitar 1,14 juta kl.

Jumlah tersebut setara untuk menggantikan 5% konsumsi bensin nasional sebesar 22,8 juta kl per tahun.

>>> ASDP Optimalkan Armada Merak Bakauheni Jelang Libur Sekolah

Berdasarkan formula Harga Indeks Pasar bioetanol Kementerian ESDM dan kurs Rp17.286 per dolar AS, harga bioetanol diperkirakan sekitar Rp8.063 per liter.

Dengan komposisi 95% bensin dan 5% bioetanol, harga E5 diperkirakan di kisaran Rp16.550 per liter jika harga bensin campuran diasumsikan Rp17.000 per liter.

"Jika 1,14 juta kl ini benar-benar diproduksi di dalam negeri, maka akan menurunkan ketergantungan impor," ujar Yayan.

Kementerian ESDM mencatat Indonesia memiliki tiga pabrik bioetanol fuel grade di Lampung dan Jawa Timur dengan kapasitas produksi 60.000 kl.

Dari total 14 pabrik bioetanol, enam di antaranya merupakan pabrik bioetanol fuel grade, namun baru tiga yang beroperasi dan memiliki izin usaha niaga BBN.

Pabrik di Lampung dimiliki PT Indonesia Ethanol Industry dengan kapasitas bioetanol 76.923 kl dan bioetanol fuel grade 20.000 kl.

Pabrik di Jawa Timur dimiliki PT Energi Agro Nusantara dengan kapasitas bioetanol fuel grade 30.000 kl.

>>> Polda Metro Jaya Rekayasa Lalu Lintas saat Kunjungan Presiden Jerman

Pabrik lainnya di Jawa Timur dimiliki PT Molindo Raya Industrial dengan kapasitas bioetanol 60.000 kl dan bioetanol untuk BBN 10.000 kl.

Dirjen EBTKE Eniya Listiani Dewi memastikan implementasi mandatori E5 berlaku 1 Juli 2026. SPBU swasta wajib menjual bensin campuran bioetanol tersebut.

Eniya menegaskan bioetanol untuk E5 wajib diserap dari industri domestik sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025.

Implementasi E5 diterapkan bertahap, dimulai dari Pulau Jawa untuk sektor non-PSO.

Pada tahap awal, program E5 akan memanfaatkan infrastruktur PT Pertamina. Uji coba telah dilakukan melalui Pertamax Green 95.

Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 113. K/EK.

05/MEM. E/2026, tahapan pencampuran bioetanol dalam bensin adalah 5% pada 2026-2027, 10% pada 2028-2030.

>>> 86 Nama Bayi Laki-laki Sunda Ningrat dan Artinya yang Penuh Makna

Wilayah implementasi meliputi Jawa Timur, Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, dan Lampung secara bertahap.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru