Goldman Sachs secara resmi menurunkan proyeksi rata-rata harga minyak mentah Brent pada tahun 2027 menjadi US$ 80 per barel.
Sebelumnya, perkiraan awal berada di angka US$ 85 per barel.
>>> IHSG Pekan Depan Diprediksi Uji MA20, Kisaran 5.900-6.220
Revisi ini diumumkan pada Minggu (14/6/2026) dan dipicu oleh prediksi lonjakan pertumbuhan pasokan global. Pelemahan permintaan dari pasar Tiongkok juga menjadi faktor utama.
Peningkatan volume produksi minyak dari Amerika Serikat, Brasil, Guyana, Venezuela, dan Uni Emirat Arab turut mendorong penyesuaian ini.
Pergeseran struktural konsumsi energi di China juga menekan laju pertumbuhan permintaan minyak dunia.
"Kami mengasumsikan bahwa lebih dari 10% kelemahan permintaan akan tetap ada seiring percepatan peralihan Tiongkok ke alternatif (misalnya kendaraan listrik)," tulis Goldman Sachs.
>>> Pekan Sibuk: Sejumlah Bank Sentral Dunia Siap Putuskan Suku Bunga Acuan
Meskipun menurunkan target harga jangka panjang, Goldman Sachs masih mempertahankan perkiraan harga Brent sebesar US$ 90 per barel untuk kuartal IV-2026.
Analisis menunjukkan bahwa dampak hambatan pasokan akibat konflik di Timur Tengah masih bisa diredam oleh lemahnya daya serap pasar dan kelebihan pasokan global.
Dampak Konflik dan Prospek Pasokan
Ketegangan di Selat Hormuz sebelumnya sempat memotong jalur logistik dan volume produksi minyak dari Timur Tengah.
Namun, potensi defisit pasokan pada kuartal II-2026 diprediksi hanya sekitar 5 hingga 6 juta barel per hari karena perlambatan konsumsi global.
Pemulihan arus perdagangan energi diperkirakan baru akan membuat ekspor minyak negara-negara Teluk kembali normal pada akhir Agustus 2026.
>>> Harga Emas Dunia Melesat ke US$ 4.284 Per Troy Ons 15 Juni 2026
Durasi ini lebih lambat dari proyeksi awal di akhir Juni, dengan volume pengiriman melalui Selat Hormuz mencapai 70% dari level sebelum konflik.
Faktor ketidakpastian geopolitik tetap memegang peranan krusial yang dapat memicu fluktuasi harga minyak.
Goldman Sachs memperingatkan risiko jika gangguan ekspor di Selat Hormuz berlangsung lebih lama akibat perang antara Iran dan AS.
Dalam skenario tersebut, harga Brent berisiko melonjak hingga rata-rata US$ 110 per barel di akhir 2026 dan menembus US$ 140 per barel pada 2027.
>>> Belanda vs Jepang Imbang 2-2, Warganet Indonesia Ramai Beri Komentar
Sebaliknya, percepatan normalisasi pasokan yang beriringan dengan pelemahan permintaan global dapat menyeret harga jatuh ke US$ 70 pada akhir 2026 dan US$ 60 per barel pada 2027.