⌂ Beranda News Kisah ShanJay Cook: Bumbu Aceh Buatan UMKM Tembus Supermarket

Kisah ShanJay Cook: Bumbu Aceh Buatan UMKM Tembus Supermarket

Kisah ShanJay Cook: Bumbu Aceh Buatan UMKM Tembus Supermarket
Produk bumbu instan ShanJay Cook khas Aceh
A A Ukuran Teks16px

Pandemi COVID-19 di awal 2020 melahirkan banyak pelaku UMKM baru, salah satunya Jo Viviani Sanita yang mendirikan ShanJay Cook, jenama bumbu masakan instan khas Aceh.

Vivi, sapaan akrabnya, mengikuti pelatihan di Rumah BUMN BRI Jakarta Barat sambil membawa dua produk andalan: Bumbu Gulai Aceh Serbaguna dan Bumbu Mie Goreng Aceh dengan kemasan baru.

>>> Transmart Full Day Sale 14 Juni 2026: Diskon 50%+20% Peralatan Makan

Nama ShanJay diambil dari nama kedua anaknya, Shania dan Jayson. Sebelum meracik bumbu, Vivi bergelut di bisnis tas anak yang terhenti akibat pandemi.

"Saya awalnya usaha tas anak. Gara-gara pandemi, sekolah libur, jadi nggak bisa lanjut," ujarnya.

Ia pun beralih ke bisnis kuliner karena pasar yang lebih luas. Alasan lainnya adalah kecintaan suaminya terhadap kuliner kampung halaman di Kota Sigli, Aceh.

Awalnya, mereka mendapat kiriman bumbu instan dari keluarga di Aceh. Penasaran dengan resep asli, Vivi dan suami belajar meracik bumbu Aceh langsung ke rumah saudara.

Vivi mengaku bukan orang yang suka memasak, tetapi keinginan menghidangkan makanan khas Aceh untuk suami mendorongnya terus belajar.

Lambat laun, mereka berhasil membuat Mie Goreng Aceh, Mie Gulai Aceh, dan Mie Kocok Aceh. Vivi mulai mempromosikan ke grup WhatsApp, saudara, dan grup orang tua sekolah.

Pesanan pun ramai, dan ia membuka pre-order pada 2021.

Mengemas Bumbu Instan

Saat pandemi mereda dan suami kembali sibuk, Vivi mengubah strategi dengan mengemas bumbu instan siap masak agar usaha tetap berjalan.

>>> Jadwal KRL Solo Jogja 13 Juni 2026: Berangkat dari Pagi hingga Malam

Awalnya, kemasan masih diproses biasa sehingga harus disimpan di kulkas atau freezer. Vivi kemudian belajar sterilisasi suhu tinggi (retort) agar produk tahan hingga satu tahun tanpa pengawet.

Untuk memperluas pasar, Vivi bergabung dengan komunitas UMKM dan menjadi binaan Rumah BUMN BRI pada 2025.

Di sana, ia mengikuti pelatihan intensif, termasuk tentang branding dan teknologi AI untuk promosi digital.

Rumah BUMN BRI juga membantu pembuatan konten promosi media sosial. Vivi mengaku pelatihan sangat bermanfaat, terutama dalam hal branding.

Merambah Pasar Ritel

Kini, Vivi tidak hanya melayani pre-order, tetapi juga memasok bumbu instan ke supermarket melalui skema konsinyasi. Produk ShanJay sudah masuk ke lima toko Pasar Laris di dekat rumahnya.

"Tipe warga perumahan di sana banyak yang cari bumbu instan, dan cocok dengan bumbu ini," ungkapnya.

Strategi promosi melalui WhatsApp story juga efektif menjaring pelanggan baru. Setiap promosi, pasti ada yang pesan.

>>> Alam Sutera Realty Bagikan Dividen Tunai Rp 29,47 Miliar

Modal awal Vivi sekitar Rp10 juta. Kini, omzet ShanJay mencapai Rp15 juta per bulan, ditambah dari usaha katering.

ShanJay memiliki dua ukuran kemasan: kecil Rp30.000 dan besar Rp40.000. Di Pasar Laris, harga berkisar Rp35.000–Rp45.000.

Ke depan, Vivi menargetkan pasar lebih luas dengan fokus meningkatkan strategi branding.

Sementara itu, Koordinator Rumah BUMN BRI, Jajang Rohmana, mengatakan pihaknya berkomitmen membina UMKM secara gratis untuk naik kelas.

Saat ini ada sekitar 11.000 UMKM binaan, 6.000 di antaranya aktif mengikuti program pemberdayaan.

Program meliputi pelatihan, pengurusan legalitas, dan pendampingan digital. UMKM baru akan diarahkan mengisi scoring di Link UMKM untuk mengetahui aspek yang perlu ditingkatkan.

"Kami akan mengarahkan mereka fokus pada 3 aspek terendah, lalu menyiapkan pelatihan dengan narasumber ahli," jelas Jajang.

Rumah BUMN BRI menargetkan UMKM naik kelas melalui tahapan Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global.

>>> Kemenkes Batasi Kenaikan Harga Obat Maksimal 20 Persen

Fokus saat ini adalah optimalisasi digitalisasi.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru