⌂ Beranda News SIMAKDIALOG Kritik Festival Jazz yang Kehilangan Identitas

SIMAKDIALOG Kritik Festival Jazz yang Kehilangan Identitas

SIMAKDIALOG Kritik Festival Jazz yang Kehilangan Identitas
Panggung festival jazz dengan musisi tampil
A A Ukuran Teks16px

Kritik terhadap festival jazz yang dinilai tidak lagi merepresentasikan genre aslinya kembali mencuat.

Sejumlah acara besar seperti Java Jazz Festival, Prambanan Jazz, dan Jazz Gunung sukses menarik ribuan penonton.

>>> AMOREPACIFIC Indonesia Luncurkan Program Pure Path di Bali untuk Jaga Lingkungan

Namun, panggung utama justru lebih sering diisi musisi pop, R&B, atau band rock dengan aransemen jazz.

Musisi jazz senior Indra Lesmana sebelumnya menyuarakan kegelisahan ini melalui Instagram pada 9 Juli 2025. "Semakin sedikit musisi jazz tampil di festival jazz.

Tanpa jazz, festival jazz kehilangan jiwanya," tulisnya.

Indra menegaskan festival seharusnya menjadi ruang berkembang bagi seniman, bukan sekadar mengejar keuntungan komersial. "Kita butuh festival yang berani, yang memberi ruang bagi seniman untuk bernapas," ujarnya.

Pandangan SIMAKDIALOG

Pernyataan Indra diamini grup SIMAKDIALOG saat menghadiri showcase GONG di Ruang Tamu Tony, Jakarta Selatan, Jumat, 12 Juni 2026.

Keempat personelnya—Sri Hanuraga, Cucu Kurnia, Jason Mountario, dan Dinar Rizkianti—ikut angkat bicara.

>>> IPO SpaceX dan Harapan Damai Iran Dorong Penguatan Bursa AS

Pianis Sri Hanuraga menilai persoalan ini berkaitan dengan sejarah jazz yang lahir sebagai musik perjuangan dari akar rumput.

"Praktik itu menghancurkan dan mendistorsi musik jazz. Orang mungkin tidak mengenal lagi apa itu jazz," tuturnya.

Pemain bass Jason Mountario heran dengan keputusan kurasi festival yang sering diambil pihak tidak memahami musik. "Kurator yang tidak ngerti jazz beropini seakan-akan penting.

Jadinya aneh," ungkapnya.

Cucu Kurnia mempertanyakan mengapa penyelenggara tetap mempertahankan label jazz meski kontennya melenceng. "Kenapa tidak berani keluar dari kata jazz itu?"

katanya.

>>> BRI Dorong Kerajinan Serat Alam Mlatiwangi Tembus Pasar Global

Vokalis Dinar Rizkianti menambahkan, kolaborasi lintas genre sah-sah saja, namun promotor tidak perlu memaksakan embel-embel jazz. "Kalau mau festival jazz, hadirkan musisi jazz yang sebenarnya," ujarnya.

Jason menilai peran musisi dalam festival sudah terbalik. "Kenapa di main stage bukan the rockstar of jazz yang tampil?

Harus tetap ada respect," tegasnya.

Kurator dan Regenerasi

Sri Hanuraga menyoroti fungsi kurator yang harus merawat ekosistem musik. "Kurator harus punya visi jelas dan pemahaman sejarah musik yang besar," ujarnya.

Menurutnya, regenerasi musisi jazz muda di Indonesia berkembang pesat dengan kemampuan lebih baik, namun kekurangan panggung. "Mereka akhirnya menjadi session player di industri pop demi menyambung hidup," lanjutnya.

Jason berharap promotor lebih berani memercayai kualitas musik murni. "Kalau mau gambling, sekalian all out.

>>> Pemerintah Antisipasi Migrasi Konsumen Usai Harga Pertamax Naik

Kenapa tidak percaya sama musik? Good music is good music," tutupnya.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru