⌂ Beranda News Penyebab Air Liur Berlebihan saat Hamil dan Cara Mengatasinya

Penyebab Air Liur Berlebihan saat Hamil dan Cara Mengatasinya

Penyebab Air Liur Berlebihan saat Hamil dan Cara Mengatasinya
Ilustrasi ibu hamil mengalami air liur berlebih
A A Ukuran Teks16px

Perubahan tubuh selama kehamilan memerlukan adaptasi yang tidak sedikit.

Salah satu perubahan yang sering memicu rasa tidak nyaman adalah produksi air liur yang jauh lebih banyak dari biasanya.

>>> Haji Bolot Jalani Pemulihan di Rumah Sakit Usai Serangan Jantung

Kondisi ini dikenal secara medis dengan istilah ptyalism atau sialorrhea, sedangkan pada ibu hamil disebut ptyalism gravidarum. Meskipun mengganggu, kondisi ini masih dapat ditangani.

"Saya cukup sering melihat ptyalism ringan," kata Kristin Cohen, DNP, seorang bidan bersertifikat di New Jersey.

Ia menambahkan bahwa kondisi ini diperkirakan lebih umum dialami oleh orang-orang dari keturunan Haiti dan Afrika.

Pada kondisi normal, kelenjar ludah manusia memproduksi sekitar 1,5 liter air liur setiap hari. Jumlah tersebut biasanya tidak disadari karena proses menelan yang terus-menerus.

Saat hamil, peningkatan air liur dapat terjadi karena produksi yang meningkat atau frekuensi menelan yang berkurang. Beberapa wanita bahkan merasakan dorongan untuk meludah lebih tinggi saat mengalami mual.

>>> KKP Siapkan Sanksi dan Insentif untuk Daerah dalam Pengelolaan Sampah

Penyebab Air Liur Berlebih saat Hamil

Perubahan hormonal menjadi salah satu pemicu utama, meskipun penyebab pastinya belum diketahui sepenuhnya. Rasa mual juga memengaruhi karena ibu hamil cenderung lebih jarang menelan, sehingga air liur menumpuk.

Masalah lambung seperti mulas yang memicu asam lambung naik ke kerongkongan ikut merangsang kelenjar ludah bekerja lebih aktif.

Faktor lain termasuk masalah kesehatan gigi, seperti kerusakan gigi atau infeksi mulut.

Kehadiran zat iritan seperti asap, penggunaan obat-obatan tertentu, paparan bahan kimia, serta beberapa kondisi medis khusus juga dapat meningkatkan produksi ludah.

Gejala penumpukan air liur ini paling sering terjadi pada trimester pertama kehamilan.

>>> Pemerintah Buka Beasiswa Garuda Sarjana Gelombang II hingga 25 Juni 2026

Para ahli menduga ini adalah mekanisme alami tubuh untuk melindungi mulut, tenggorokan, dan gigi dari asam lambung.

Biasanya, gangguan ini akan mereda atau hilang saat memasuki trimester kedua. Namun, pada kasus langka, kondisi ini dapat bertahan hingga waktu persalinan.

Produksi air liur berlebih tidak membahayakan bayi. Belum ada bukti medis yang menyatakan kondisi ini memicu komplikasi pada kehamilan atau janin.

Efek ptyalism gravidarum lebih berdampak pada kenyamanan ibu hamil, seperti pembengkakan kelenjar ludah hingga gangguan tidur.

Rasa canggung akibat sering meludah juga membuat sebagian ibu enggan beraktivitas di luar.

>>> Anker Resmi Luncurkan Soundcore Liberty 5 Pro Series di Indonesia

Hingga saat ini belum ada obat khusus untuk mencegah kondisi ini. Ibu hamil disarankan untuk menyikapinya dengan tenang atau berkonsultasi dengan dokter jika merasa sangat terganggu.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru