Pemerintah Iran meningkatkan pengamanan cadangan uranium yang diperkaya mendekati tingkat senjata nuklir secara ketat di tengah rencana proposal kesepakatan dengan Amerika Serikat, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz pada Sabtu (13/6/2026).
Teheran sengaja meruntuhkan terowongan akses dan memasang ranjau peledak di pintu masuk fasilitas penyimpanan berdasarkan informasi intelijen Amerika Serikat.
>>> Choky Sitohang Viral di TikTok, Netizen Juluki Top Global Ngolah
Langkah tersebut mempersulit akses menuju sekitar setengah ton uranium tingkat tinggi dibandingkan sebulan lalu saat Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan perintah militer untuk menyita material nuklir tersebut.
Proses pengambilan kembali uranium yang terkubur kini menjadi pekerjaan yang sulit dan berisiko tinggi bagi Iran sendiri karena membutuhkan alat berat untuk penggalian serta pembersihan ranjau.
Kekhawatiran atas Kepatuhan Iran
"Jika laporan ini benar, maka upaya mengambil kembali uranium dengan pengayaan tinggi akan menjadi jauh lebih rumit," kata Scott Roecker, mantan Kepala Kantor Penghapusan Material Nuklir di National Nuclear Security Administration periode 2017-2021.
Roecker menilai situasi tersebut dapat memberi ruang bagi Iran untuk mengaburkan kepatuhan terhadap kesepakatan.
Tanggung jawab menyerahkan seluruh inventaris berada di tangan Iran jika negosiasi mengharuskan pemindahan stok uranium ke satu lokasi untuk diverifikasi, diencerkan, atau dipindahkan.
>>> Yamaha Indonesia Pamerkan MX King 150 Prima Pramac Livery di Jakarta Fair 2026
"Dalam skenario tersebut, Roecker khawatir Iran dapat mengklaim sebagian uranium tidak dapat diambil kembali," tambahnya.
Di pihak lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan pemerintahan Donald Trump sejak awal menyadari potensi hancurnya perekonomian global akibat perang dengan Iran, namun ancaman kepemilikan senjata nuklir Teheran jauh lebih serius.
"Presiden dan seluruh jajaran pemerintahan sadar betul bahwa setiap tindakan pasti memiliki konsekuensi.
Namun, konsekuensi jika Iran sampai memiliki senjata nuklir jauh lebih buruk," tegas Rubio pada sidang dengar pendapat bersama Komite Urusan Luar Negeri DPR AS di Washington pada Rabu (3/6/2026).
>>> Dokter Kulit Ungkap Penyebab Jerawat Remaja dan Cara Mengatasinya
"Kami sudah bersiap menghadapi respons apa pun," ujarnya.
Penguatan pertahanan Iran ini menambah kompleksitas proposal kesepakatan damai sementara yang bertujuan membuka kembali Selat Hormuz serta mengakhiri perang.
Trump sempat membatalkan rencana serangan udara terhadap Iran pada Kamis karena menilai negosiator mencatat kemajuan signifikan, dengan peluang kesepakatan mencapai 80-85 persen meski ditolak kelompok garis keras Iran.
"Memorandum Kesepahaman Islamabad belum pernah sedekat ini untuk terwujud," kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melalui media sosial X.
Unggahan tersebut kemudian dibagikan ulang oleh Trump.
>>> Amerika Serikat Hajar Paraguay 4-1 di Laga Pembuka Piala Dunia 2026
Kesepakatan ini nantinya akan berbasis kinerja, di mana Iran diwajibkan membuka Selat Hormuz, menyerahkan atau memusnahkan persediaan uranium pengayaan tinggi, membongkar program nuklir, serta tidak akan menerima dana sebelum memenuhi sebagian kewajibannya.