Paparan logam lingkungan yang tersimpan di gigi susu anak dapat memengaruhi perkembangan otak dan perilaku mereka dalam satu dekade pertama kehidupan.
Fakta ini dikonfirmasi oleh penelitian terbaru dari Icahn School of Medicine di Mount Sinai.
>>> Spacex Raup Rp1.222 Triliun Lewat IPO Terbesar Sepanjang Sejarah
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances ini melacak kondisi otak anak terhadap paparan lingkungan dari masa kandungan hingga lahir.
Peneliti memanfaatkan teknologi pencitraan otak canggih untuk menganalisis gigi susu dari data kohort kelahiran PROGRESS di Kota Meksiko sejak 2007.
Metode khusus yang dikembangkan di Mount Sinai mampu memetakan lapisan gigi susu yang terbentuk sejak trimester kedua kehamilan.
Dari analisis tersebut, tim mendeteksi paparan sembilan jenis logam lingkungan yang kemudian disesuaikan dengan hasil pemindaian MRI otak dan evaluasi perilaku anak.
Penulis utama studi, Manish Arora, menyatakan bahwa gigi susu menyimpan catatan penting bagi kehidupan awal anak.
Gigi susu mampu memberikan gambaran kondisi lingkungan sejak masa janin hingga kehidupan setelah lahir.
"Gigi susu bisa memberi gambaran tentang kondisi lingkungan yang dialami bayi sejak masih di dalam kandungan hingga awal setelah lahir, bahkan bisa dilihat secara rinci dari minggu ke minggu, sesuatu yang belum bisa dilakukan oleh teknologi lain," jelas Dr. Arora.
Riset ini melibatkan 489 anak yang memiliki kandungan logam pada gigi susu mereka.
Sebanyak 395 anak di antaranya menjalani penilaian perilaku, sedangkan 191 anak lainnya melewati proses pemindaian otak menggunakan teknologi MRI.
>>> Investor Asing Borong Saham BBCA dan DSSA di Sesi I, Net Buy Rp 492,4 Miliar
Secara anatomis, gigi susu terdiri atas beberapa lapisan yang mulai terbentuk sejak janin di dalam kandungan.
Selama fase pertumbuhan, gigi tersebut menyerap sejumlah kecil logam yang ikut menyebar di dalam aliran darah tubuh.
Para peneliti menemukan dua periode umur bayi yang paling rentan terhadap paparan logam, yaitu minggu ke-4 hingga ke-8 serta minggu ke-32 hingga ke-42 setelah kelahiran.
Tingginya paparan logam pada fase kritis ini memicu masalah emosional seperti kecemasan, gangguan perhatian, hingga gangguan suasana hati.
Dampak paling signifikan ditemukan pada bayi berumur 32 hingga 42 minggu.
Peningkatan akumulasi logam pada masa ini berkorelasi dengan kenaikan skor gangguan perilaku, dengan sekitar 4 persen anak menunjukkan gejala klinis yang berpotensi menjadi gangguan kesehatan mental serius.
Hasil pemindaian MRI juga membuktikan adanya perbedaan struktur otak pada anak yang mengalami paparan campuran logam lebih tinggi sejak dini.
Gangguan ini menyerang area-area otak yang saling terhubung sehingga mengacaukan sistem komunikasi antarjaringan otak.
Secara kumulatif, paparan logam pada periode emas anak meningkatkan risiko kesulitan berkonsentrasi, penurunan atensi, dan hiperaktivitas.
