Tools for Humanity, perusahaan rintisan di balik proyek mata uang kripto World (sebelumnya Worldcoin), dikabarkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).
Langkah ini diambil di tengah tekanan regulasi dan tantangan profitabilitas.
Informasi PHK disampaikan melalui surat elektronik internal dari bagian personalia pada Senin lalu. Manajemen menyebut reorganisasi ini sebagai penyesuaian strategi dan prioritas operasional.
Hingga kini, jumlah pasti karyawan yang terdampak belum diumumkan. Tools for Humanity tercatat memiliki lebih dari 500 staf aktif.
Perusahaan ini sebenarnya memiliki valuasi tinggi, mencapai USD 2,5 miliar atau sekitar Rp 40,7 triliun.
Valuasi tersebut didukung investasi dari Andreessen Horowitz, Bain Capital Crypto, Khosla Ventures, dan Blockchain Capital.
Tools for Humanity populer berkat perangkat keras pemindai iris mata bernama Orb. Teknologi ini dirancang untuk membedakan manusia asli dari bot AI dan menghasilkan identitas digital World ID.
Masyarakat yang bersedia memindai mata mereka mendapat insentif berupa aset kripto WLD. Namun, publik enggan menyerahkan data biometrik yang sensitif.
Target ambisius untuk merangkul 1 miliar pengguna terverifikasi pada November lalu masih jauh. Realisasinya bahkan belum mencapai 2 persen dari target.
Tekanan Regulasi Global dan Strategi B2B
Operasional Tools for Humanity terhambat pengawasan ketat dari otoritas di Asia, Amerika Selatan, hingga Eropa.
Regulasi di sejumlah negara melakukan investigasi, pembatasan, hingga pemblokiran atas dasar perlindungan data biometrik.
Manajemen terus melakukan pembelaan hukum terkait penyimpanan data iris mata. Belum ada skema bisnis jelas bagaimana Orb dapat menghasilkan pendapatan jangka panjang.
Meski demikian, operasional di Amerika Serikat masih berjalan sejak ekspansi pada Mei 2025 dengan target awal 7.500 unit Orb.
Kini perusahaan mulai fokus pada verifikasi korporasi (B2B) melalui kemitraan dengan Tinder, Zoom, dan Docusign.