Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Febtusia Puspitasari, menegaskan bahwa angin duduk bukanlah masuk angin biasa.
Istilah angin duduk merujuk pada angina pektoris, yaitu kondisi serangan jantung mendadak akibat penyakit jantung koroner.
>>> Mantan Presiden Korsel Yoon Suk Yeol Divonis 30 Tahun Penjara
Pernyataan ini disampaikan dalam acara edukasi kesehatan kardiovaskular yang digelar Daewoong Pharmaceutical Indonesia bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) di Jakarta pekan ini.
Perbedaan Angin Duduk dan Masuk Angin
Menurut dr Febtusia, angina pektoris berasal dari bahasa Yunani yang berarti mencekik atau menyempit di dada.
Istilah angin duduk muncul karena penderita kesulitan tiduran dan cenderung duduk untuk memperbaiki posisi saat gejala muncul.
Gejala utama angin duduk adalah rasa tercekik dan sesak di dada kiri. Nyeri bisa menjalar ke rahang atau lengan, bahkan muncul saat beristirahat.
Kondisi ini berbeda dengan masuk angin biasa yang umumnya tidak memerlukan penanganan darurat.
>>> KAQI Serap 100% Dana IPO Rp49,58 Miliar, Siap Buyback Saham
Dokter Febtusia menekankan bahwa angin duduk tidak boleh ditangani dengan metode tradisional seperti dikerok. Penderita harus segera dibawa ke rumah sakit karena dapat menyebabkan kematian mendadak.
Penyebab dan Faktor Risiko
Penyebab utama serangan jantung adalah penumpukan plak kolesterol jahat di pembuluh darah. Plak ini menyumbat aliran darah dan oksigen ke otot jantung.
Akumulasi plak yang mengeras dapat memicu hipertensi. Jika plak pecah, sumbatan total terjadi dan menyebabkan serangan jantung.
Kebiasaan merokok juga menjadi faktor risiko. Asap rokok menyebabkan sel darah merah mengangkut karbon dioksida (CO2) dari pembakaran rokok, bukan oksigen.
Akibatnya, sel-sel tubuh termasuk jantung kekurangan oksigen dan regenerasi terganggu.
Dalam jangka panjang, efek ini dapat memicu pertumbuhan sel jahat dan kanker.
>>> BEM UI Gelar Demo di Bundaran HI, Massa Bawa 5 Tuntutan
Daewoong Pharmaceutical Indonesia menawarkan solusi medis berupa terapi kombinasi jalur ganda untuk mengendalikan kolesterol jahat.
Pendekatan ini menggabungkan statin dan ezetimibe yang bekerja menghambat sintesis kolesterol di hati dan mengurangi penyerapan kolesterol di usus.
dr Wicak Prasetiadi, Head of Brand & Marketing Daewoong Pharmaceutical Indonesia, menjelaskan bahwa terapi ini efektif bagi pasien yang sulit mencapai target dengan statin tunggal atau khawatir efek samping dosis tinggi.
Perusahaan juga sedang mengumpulkan data medis pasien kardiovaskular di Indonesia. Tujuannya untuk memproduksi obat lokal yang lebih terjangkau dan bisa diakses melalui BPJS.
Baik In Hyun, Head of Indonesia Business Division Daewoong Pharmaceutical, menegaskan komitmen perusahaan selama lebih dari 20 tahun di Indonesia.
>>> Uji Ketajaman Mata dengan Tantangan Mencocokkan Bayangan
Melalui kolaborasi dengan PERKI, mereka akan terus menyebarkan informasi kesehatan yang akurat dan berbasis sains.