Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat 0,24 persen ke posisi Rp17.944 per dolar AS pada perdagangan Jumat (12/6/2026).
Penguatan ini terjadi di tengah perbaikan sentimen eksternal.
>>> IHSG 12 Juni 2026 Melesat 1,72 Persen ke Level 5.987 di Awal Sesi
Indeks dolar AS mengalami koreksi 0,13 persen menuju level 99,72.
Penurunan ini beriringan dengan melemahnya harga minyak mentah dunia yang merosot 1,08 persen ke angka US$89,4 per barel.
Penyusutan harga komoditas energi tersebut dipicu respons positif pasar terhadap perkembangan negosiasi antara AS dan Iran. Dialog ini memunculkan kembali harapan meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah.
>>> Tecno Pova 8 5G Resmi di India, Baterai 8.000 mAh Siap Masuk RI
Katalis Positif dari Kebijakan Domestik
Pelemahan indeks dolar AS dan penurunan harga minyak menjadi katalis positif bagi rupiah.
Selain itu, langkah pemerintah menyesuaikan harga bahan bakar non-subsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter diproyeksikan memangkas defisit fiskal akhir tahun.
Bank sentral juga mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,5 persen di luar jadwal rapat bulanan.
Kebijakan ini membuat imbal hasil aset domestik lebih menarik bagi investor asing.
>>> IHSG Melonjak 74 Poin pada Pembukaan Perdagangan 12 Juni 2026
Meskipun demikian, pelaku pasar masih bersikap wait and see untuk mencermati sinyal stabilitas fiskal dan arah kebijakan ekonomi jangka panjang.
Kekhawatiran terkait tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih membayangi.
Pemerintah tengah menata sistem distribusi dan menyesuaikan anggaran MBG.
>>> Bahlil Panggil Pimpinan PLN Selidiki Pemadaman Listrik di Jawa
Namun, aspek operasional seperti perluasan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melampaui target awal tetap memicu kekhawatiran pemodal.