Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Penjualan Riil (IPR) April 2026 melambat menjadi 226,9. Angka ini turun dari 256,7 pada Maret 2026.
Penurunan tersebut merupakan efek normalisasi setelah lonjakan konsumsi selama Ramadan dan Idul Fitri. BI memproyeksikan IPR Mei 2026 akan kembali turun ke 225.
>>> IHSG Naik ke Level 5.902, Saham BBCA Jadi Motor Utama
Kontraksi Tahunan dan Daya Beli
Secara tahunan, IPR April 2026 terkontraksi 3,7%. Kontraksi ini lebih dalam dibandingkan April 2025 yang hanya minus 0,3%.
Data ini mengindikasikan daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya. Tekanan juga terlihat pada kelompok barang diskresioner seperti peralatan informasi dan komunikasi yang terkontraksi 26,4%.
Kelompok sandang serta makanan, minuman, dan tembakau masing-masing terkontraksi 7% dan 3,8%.
Sektor yang Masih Tumbuh
Meski secara umum melambat, beberapa sektor masih mencatat pertumbuhan positif.
Kelompok suku cadang tumbuh 14,7% secara tahunan pada April dan diproyeksikan naik menjadi 16,6% pada Mei.
>>> Akurasi Tembakan OG Anunoby Antar New York Knicks Ungguli Spurs
Kelompok perlengkapan rumah tangga juga tumbuh 0,6% pada April dan diperkirakan naik menjadi 1,8% pada Mei.
Optimisme Pelaku Usaha
Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) April 2026 mencapai 138,3 untuk tiga bulan ke depan.
Untuk enam bulan ke depan, IEP melonjak ke 149,4 dari 137,8 pada Maret.
Angka ini menunjukkan pelaku usaha tidak melihat perlambatan saat ini sebagai tren jangka panjang. Mereka optimistis konsumsi domestik akan menguat pada semester II-2026.
IEP enam bulan ke depan pada April 2026 hampir sama dengan April 2025 yang sebesar 149,3. Keyakinan terhadap pemulihan di paruh kedua tahun ini tetap terjaga.
>>> Kebijakan Ekspor Batu Bara Satu Pintu Dikhawatirkan Hambat Investasi Hilirisasi
Perbaikan Bulanan pada Mei
Prakiraan penjualan eceran Mei 2026 menunjukkan kontraksi bulanan menyempit drastis menjadi 0,9% dari sebelumnya 11,6%. Perbaikan terjadi di hampir seluruh kelompok barang.
Sektor peralatan informasi dan komunikasi berbalik tumbuh 2,2% secara bulanan. Kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya juga berbalik tumbuh 2%.
Kelompok sandang mampu tumbuh tipis 0,1% setelah sebelumnya terkontraksi 23% pada April. Tekanan konsumsi mulai mereda seiring normalisasi aktivitas ekonomi.
Tekanan Inflasi Terkendali
Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) tiga bulan ke depan hanya naik tipis 0,2 poin menjadi 175,8.
Hal ini mencerminkan tekanan inflasi impor belum sepenuhnya diteruskan ke konsumen.
>>> Menteri UMKM Usulkan Tambahan Anggaran Rp1,5 Triliun untuk 2027
Daya beli yang melemah turut membatasi ruang produsen untuk menaikkan harga barang. Pelaku usaha tidak menunjukkan kepanikan terhadap inflasi jangka pendek.
