⌂ Beranda News Pelemahan Rupiah Mulai Berdampak Signifikan pada Sektor Manufaktur

Pelemahan Rupiah Mulai Berdampak Signifikan pada Sektor Manufaktur

Pelemahan Rupiah Mulai Berdampak Signifikan pada Sektor Manufaktur
Ilustrasi pelemahan rupiah berdampak pada sektor manufaktur
A A Ukuran Teks16px

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, mengungkapkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai berdampak signifikan pada sektor manufaktur.

Menurut Shinta, sektor manufaktur sangat sensitif terhadap fluktuasi kurs karena struktur produksi nasional masih bergantung pada bahan baku dan barang antara impor.

>>> KCIC Larang Warga Main Layang-Layang Dekat Jalur Kereta Whoosh

Ketika rupiah melemah, biaya pembelian bahan baku impor otomatis meningkat dan langsung memengaruhi biaya produksi perusahaan.

Nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS, meskipun kini turun ke Rp 17.944.

“Tekanan terhadap rupiah sudah terjadi secara bertahap sejak awal tahun, sehingga dampaknya terhadap sektor riil kini semakin terasa,” kata Shinta saat dihubungi, Rabu (10/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa ketergantungan industri terhadap bahan baku impor mencapai sekitar 70%.

Shinta menambahkan bahwa tekanan yang dihadapi industri tidak hanya berasal dari nilai tukar.

Pelaku usaha juga harus menghadapi tingginya biaya logistik, energi, dan pembiayaan yang masih menjadi tantangan.

>>> Pendaftaran PPPK Sekolah Rakyat 2026 Dibuka, Ini Rincian Gaji Pokok

“Kondisi ini juga terjadi di tengah biaya logistik, energi, dan pembiayaan yang masih relatif tinggi.

Jadi, yang dihadapi pelaku usaha saat ini bukan hanya tekanan nilai tukar, tetapi tekanan biaya berlapis atau externally driven cost pressure,” tambahnya.

Akibatnya, perusahaan menghadapi tekanan ganda: biaya produksi meningkat, namun ruang menaikkan harga jual terbatas karena daya beli masyarakat belum pulih dan persaingan pasar ketat.

Dampak pelemahan rupiah tidak dirasakan secara merata oleh seluruh sektor industri.

Perusahaan dengan kandungan bahan baku lokal lebih tinggi atau memiliki pasar ekspor relatif lebih mampu bertahan karena memiliki perlindungan alami terhadap fluktuasi kurs.

Sebaliknya, industri yang mayoritas bahan bakunya impor dan produknya dijual di pasar domestik akan menghadapi tekanan lebih besar.

>>> IHSG Melonjak, Investor Asing Justru Catat Net Sell Besar

Margin keuntungan perusahaan dapat tergerus, arus kas menjadi lebih ketat, dan ruang ekspansi semakin terbatas.

“Kalau volatilitas nilai tukar tinggi, biaya produksi sulit diprediksi, dan tekanan eksternal terus berlanjut, maka appetite perusahaan untuk ekspansi tentu akan lebih berhati-hati,” jelas Shinta.

Ia menambahkan bahwa banyak perusahaan akan masuk ke mode wait and see, lebih selektif, dan menunda keputusan ekspansi sampai kondisi makro lebih stabil.

Shinta berharap pemerintah bersama otoritas moneter terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat kepercayaan pasar.

Ia juga meminta pemerintah menekan berbagai sumber biaya ekonomi domestik seperti logistik, energi, perizinan, hingga biaya pembiayaan.

Menurutnya, koordinasi yang kuat antara kebijakan fiskal, moneter, perdagangan, perindustrian, investasi, dan ketenagakerjaan penting agar stabilisasi ekonomi berjalan tanpa mengorbankan pertumbuhan industri dan penciptaan lapangan kerja.

>>> JI BLUE Rilis Lagu Keshiki dan Puncaki Billboard Japan Hot 100

“Dalam situasi ketika tekanan eksternal meningkat, pengurangan biaya-biaya domestik menjadi sangat penting agar industri tidak kehilangan daya saing,” tutup Shinta.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru