PT Esa Medika Mandiri terus memperkuat posisinya di industri alat kesehatan Indonesia. Langkah ini dilakukan melalui pengembangan jaringan distribusi nasional dan penguatan fasilitas manufaktur.
Perusahaan yang berdiri sejak tahun 2000 ini telah beroperasi lebih dari 25 tahun. Fokus bisnisnya adalah perdagangan besar alat laboratorium, farmasi, dan kedokteran manusia.
>>> YLKI Kritik Kenaikan Harga Pertamax yang Mendadak, Minta Transparansi Formula
Dikutip dari Investor Daily, perseroan bertransformasi dari distributor menjadi mitra solusi komprehensif bagi fasilitas kesehatan. Kini, kantor perwakilan resmi telah dibuka di Semarang, Medan, Bandung, dan Surabaya.
Hingga tahun 2026, jaringan pendukung mencakup 1 kantor pusat, 2 unit pabrik, dan 4 kantor perwakilan.
Portofolio bisnis berfokus pada peralatan medis kategori capital equipment untuk penggunaan jangka panjang.
Alat-alat tersebut dialokasikan bagi unit pelayanan kritis seperti ruang operasi, ICU, dan IGD.
Produk yang disalurkan meliputi instrumen bedah, electrosurgery unit, lampu periksa dan operasi, serta sistem bedah minimal invasif.
>>> Kemenkeu Cekal Drummer Dewa 19 Tyo Nugros ke Malaysia karena Piutang Negara
Ventilator dan mesin anestesi juga menjadi bagian dari solusi penunjang keselamatan pasien. Eksistensi operasional ditopang oleh keterlibatan dalam proyek kesehatan strategis yang didanai lembaga multilateral.
Perseroan tercatat menyuplai proyek IsDB di Universitas Sumatera Utara pada 2013, serta Universitas Sebelas Maret dan Universitas Andalas pada 2016.
Kerja sama berlanjut di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa pada 2021, RS Vertikal Makassar dan RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo pada 2024, hingga RS Vertikal Surabaya pada 2025.
Lebih dari 200 mitra rumah sakit di seluruh Indonesia telah dilayani.
Dalam upaya memperkuat kapasitas produksi dalam negeri, perseroan membangun pabrik manufaktur di Solo pada 2020 dan di Cikupa pada 2023.
>>> Harga Emas Antam 11 Juni 2026 Turun ke Rp 2.689.000 Per Gram
Ekspansi Manufaktur dan Sertifikasi
Fasilitas tersebut telah mengantongi sertifikasi Cara Pembuatan Alat Kesehatan yang Baik (CPAKB) dari Kementerian Kesehatan.
Sektor kepemimpinan diisi oleh jajaran manajemen berpengalaman di bidang distribusi alkes, manajemen keuangan, dan pasar modal.
Florian Chris Widjaja menyatakan bahwa selama lebih dari 25 tahun, perseroan tumbuh dengan fokus pada kebutuhan fasilitas kesehatan di Indonesia.
Ke depan, perseroan akan memperkuat fondasi bisnis melalui kombinasi distribusi, manufaktur, dan kemitraan strategis.
Manajemen menjabarkan bahwa penguatan posisi pasar akan diupayakan lewat ekspansi jaringan distribusi dan peningkatan kapasitas pabrik.
>>> Saham RISE Milik Hermanto Tanoko Melonjak 25 Persen hingga ARA
Langkah ini dikombinasikan dengan kemitraan teknologi bersama produsen alkes internasional untuk merespons pertumbuhan kebutuhan layanan kesehatan nasional.