⌂ Beranda News YLKI Kritik Kenaikan Harga Pertamax yang Mendadak, Minta Transparansi Formula
News

YLKI Kritik Kenaikan Harga Pertamax yang Mendadak, Minta Transparansi Formula

SPBU Pertamina dengan harga Pertamax terbaru
SPBU Pertamina dengan harga Pertamax terbaru
A A Ukuran Teks16px

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengkritik pengumuman kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 yang dinilai terlalu mendadak.

Hal ini memicu kegelisahan di masyarakat.

Kenaikan harga Pertamax sebesar 32 persen, dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter, dinilai tidak memberikan waktu bagi konsumen untuk menyesuaikan diri.

Sekretaris Eksekutif YLKI Rio Priambodo mendesak keterbukaan informasi mengenai rincian komponen pembentuk harga BBM nonsubsidi. Menurutnya, perubahan harga seharusnya diumumkan secara lebih transparan.

"Sebagai produk yang digunakan secara luas dan berdampak terhadap pengeluaran rumah tangga, perubahan harga seharusnya disampaikan secara lebih transparan dan memberikan waktu yang cukup bagi konsumen untuk menyesuaikan keputusan ekonominya," kata Rio.

YLKI juga mendesak Pertamina dan pemerintah membuka formula dan komponen pembentuk harga secara lebih terperinci. Hal ini untuk melindungi hak konsumen atas informasi.

"Sehingga hak konsumen atas informasi dapat terlindungi dengan lebih baik," tegas Rio.

Selain itu, YLKI meminta agar kenaikan harga diimbangi dengan jaminan kualitas produk dan keandalan distribusi dari Pertamina. Konsumen tidak boleh hanya diminta menerima kenaikan harga tanpa peningkatan layanan.

Pemerintah diminta mengantisipasi potensi perpindahan konsumsi ke BBM bersubsidi seperti Pertalite. Selisih harga kini mencapai Rp6.250 per liter.

"Jangan sampai masyarakat yang memang berhak memperoleh BBM subsidi justru menjadi pihak yang paling dirugikan," kata Rio.

YLKI juga mengingatkan bahwa lonjakan harga ini dapat memicu efek domino terhadap biaya transportasi dan inflasi. Pemerintah perlu mengantisipasi dampak inflasi dan menjaga stabilitas pasokan.

Sementara itu, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menjelaskan bahwa penyesuaian harga telah melalui evaluasi berkala terhadap pergerakan harga minyak dunia.

Langkah ini juga dikoordinasikan dengan regulator.

"Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal," kata Roberth.

Pertamina menyatakan tetap menahan harga BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Solar masing-masing pada Rp10.000 dan Rp6.800 per liter.

Daftar Harga BBM Pertamina di Pulau Jawa

  • Pertamax: Rp16.250
  • Pertamax Turbo: Rp20.750
  • Pertamax Green 95: Rp17.000
  • Dexlite: Rp23.000
  • Pertamina Dex: Rp24.800
  • Pertalite: Rp10.000
  • Solar: Rp6.800
📰 Update Terbaru