⌂ Beranda News Kenaikan Harga Pertamax Dorong Penjualan Mobil Listrik Secara Terbatas

Kenaikan Harga Pertamax Dorong Penjualan Mobil Listrik Secara Terbatas

Kenaikan Harga Pertamax Dorong Penjualan Mobil Listrik Secara Terbatas
Mobil listrik sedang mengisi daya di SPKLU
A A Ukuran Teks16px

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax dinilai tidak serta-merta mempercepat adopsi kendaraan listrik murni di Indonesia.

Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengatakan peningkatan penjualan mobil listrik murni saat ini masih bersifat marginal.

>>> Anwar BAB Serahkan Uang Saku Hanania Travel ke Polisi untuk Korban Umrah

"Potensinya ada, tetapi bersifat marginal dan terbatas pada segmen tertentu saja," ujar Yannes saat dihubungi Rabu (10/6/2026).

Menurutnya, kenaikan Pertamax bisa menjadi dorongan tambahan bagi konsumen kelas menengah atas yang sudah mempertimbangkan kendaraan listrik.

Namun, keputusan beralih tidak ditentukan oleh harga BBM semata.

Sebagian besar konsumen domestik belum siap beralih sepenuhnya ke kendaraan listrik berbasis baterai.

Hambatan struktural seperti harga beli yang lebih tinggi, kekhawatiran nilai jual kembali, dan keterbatasan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) masih menjadi kendala.

Di sisi lain, segmen low cost green car (LCGC) tidak terganggu karena harga Pertalite tetap stabil.

>>> Harga Perak Antam 11 Juni 2026 Tersungkur ke Rp 43.200 per Gram

"Pengaruhnya ada, tetapi proporsional dan terbatas. Kenaikan ini hanya menyentuh pengguna Pertamax, sementara pasar massal LCGC tetap stabil," ungkap Yannes.

Tekanan utama penjualan saat ini lebih disebabkan pelemahan daya beli secara keseluruhan.

Yannes memproyeksikan kendaraan hybrid, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), dan Range Extended Electric Vehicle (REEV) akan mendominasi fase transisi.

Teknologi tersebut menawarkan efisiensi tanpa menuntut kesiapan infrastruktur pengisian daya.

"Hybrid justru berpotensi paling diuntungkan karena menawarkan penghematan BBM tanpa memerlukan infrastruktur charging dan tanpa premi harga setinggi BEV," pungkas Yannes.

Produsen otomotif asal Jepang di Indonesia diperkirakan akan memperluas varian hybrid untuk segmen menengah ke bawah dan memasukkan produk EV secara bertahap.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), penjualan wholesales sepanjang 2025 tercatat 803.687 unit, turun 7,2% year-on-year.

>>> LMKN dan USEA Jalin Kerja Sama Kembangkan Lisensi Musik Digital

Penjualan ritel juga turun 6,3% dari 889.680 unit pada 2024 menjadi 803.687 unit pada 2025.

Pada Desember 2025, penjualan wholesales mencapai 94.100 unit, melonjak 25,7% dibandingkan Desember 2024.

Penjualan ritel juga meningkat sekitar 22,7%.

Untuk segmen LCGC, penjualan hingga akhir 2025 mencapai 122.688 unit, turun 30,6% dibandingkan tahun sebelumnya.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menetapkan target penjualan mobil nasional tahun ini sebanyak 850.000 unit.

"Proyeksi penjualan mobil nasional pada tahun ini 850.000 unit dari total kapasitas produksi sekitar 2,5-2,6 juta unit," kata Agus dalam pembukaan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026, Kamis (5/2/2026).

>>> Penjualan Mobil Nasional Mei 2026 Tumbuh Positif, China Mulai Mendominasi

Agus menyatakan target tersebut cukup konservatif dan berharap dapat tercapai pada akhir tahun.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru