Harga emas Logam Mulia produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) kembali mengalami penurunan pada perdagangan Kamis (11/6/2026).
Berdasarkan data yang dihimpun, emas Antam dibanderol sebesar Rp 2.689.000 per gram. Angka ini turun Rp 24.000 dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya.
>>> Jadwal KRL Solo Jogja 11 Juni 2026 Rute Palur ke Yogyakarta
Penurunan lebih tajam terjadi pada harga pembelian kembali atau buyback oleh Antam.
Nilai buyback hari ini berada di level Rp 2.395.000 per gram, setelah berkurang Rp 92.000 dari hari sebelumnya.
Faktor Pendorong Penurunan
Koreksi harga emas dalam negeri tidak lepas dari pengaruh pasar global.
Di pasar spot, harga emas dunia ditutup pada level US$ 4.059,6 per troy ons setelah ambrol 4,73% dan menyentuh level terendah sejak November tahun lalu.
>>> IHSG Dibuka Melemah ke 5.899,26 pada Sesi I Kamis Pagi
Tren negatif ini membuat harga emas melemah selama empat hari beruntun. Secara point-to-point, kejatuhan harga mencapai 9,28%.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu volatilitas pasar keuangan. Hubungan bilateral antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memanas akibat aksi saling serang antar militer kedua negara.
Militer AS melaporkan telah meluncurkan serangan rudal ke sejumlah target di Iran. Teheran menyatakan kesiapan untuk melakukan serangan balasan.
>>> Dokter Spesialis Urologi Ungkap Bahaya Menahan Kencing Terlalu Lama
Presiden AS Donald Trump menuduh Iran sengaja memperlambat proses negosiasi perdamaian. Blokade di Selat Hormuz masih berlangsung seiring konflik yang telah memasuki bulan keempat.
Kondisi ini memicu lonjakan harga energi di pasar internasional. Harga minyak mentah jenis brent naik 1,8% menjadi US$ 93,1 per barel.
Tingginya harga energi memicu kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global.
Situasi tersebut menyulitkan bank sentral dunia untuk menurunkan suku bunga acuan, dan justru membuka peluang pengetatan moneter lebih lanjut.
>>> Aliran Minyak Selat Hormuz Meningkat Lewat Transit Gelap
Emas dikategorikan sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Karakteristik ini membuat kepemilikan emas menjadi kurang kompetitif saat tren suku bunga mengalami kenaikan.