Aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz dilaporkan kembali meningkat signifikan setelah sempat terhambat konflik.
Sebanyak 16 kapal tanker berkumpul di lepas pantai Oman untuk memindahkan jutaan barel minyak yang sempat terperangkap di Teluk Persia.
>>> Aturan Do and Don't OSN Tingkat Kabupaten/Kota 2026
Fenomena ini didorong oleh peningkatan jumlah kapal tanker yang sengaja mematikan transponder.
Langkah tersebut diambil untuk memperbesar volume pengiriman minyak dari kawasan Teluk menuju pasar global tanpa terdeteksi Iran.
Meskipun data pelacakan konvensional menunjukkan pergerakan minim, realitas di lapangan berbeda.
Para eksekutif pelayaran senior dan citra satelit mengonfirmasi jalur Selat Hormuz kini lebih terbuka dengan stabilitas pengiriman lebih tinggi.
Peningkatan arus minyak ini bertepatan dengan bantuan Amerika Serikat kepada kapal yang melintas. Volume pengiriman terbaru berhasil mengamankan pasokan bagi pembeli di Asia dan mencegah lonjakan harga ekstrem.
Produsen Timur Tengah memanfaatkan armada kapal sendiri untuk mengangkut barel minyak melewati Selat Hormuz.
Cara ini efektif menghindari tarif tinggi yang dipatok segelintir pemilik kapal swasta yang berani melintas.
Setelah berhasil keluar dari selat, armada tersebut memindahkan muatan ke kapal tanker lain. Kapal tujuan berikutnya bertugas membawa komoditas tersebut kepada pembeli di Asia dan wilayah lainnya.
“Ada peningkatan tren seperti yang kami amati,” kata Larry Johnson, kepala pengiriman barang di Mercuria Energy Group. “Sebagian besar atau seluruhnya adalah kapal milik pemerintah yang berhasil melewatinya.”
Ia menambahkan bahwa kapal-kapal tersebut “tampaknya memiliki saluran komunikasi dan cara untuk mengamankan jalur safe entah bagaimana caranya.”
Beberapa kapal diketahui sengaja melintas di bawah kegelapan malam dengan mematikan seluruh lampu di atas dek.
Selain itu, para awak kapal mendapat instruksi ketat untuk tidak menggunakan komunikasi radio selama transit.
>>> Benyamin Bamburac, 15 Tahun, Raih Gelar S2 Ilmu Komputer
Data dari Rapidan Energy Group menunjukkan sekitar 2 juta barel minyak dan produk turunan per hari kini mengalir keluar dari Teluk.
Angka ini masih di bawah level normal, namun melonjak drastis dibanding periode awal konflik. Peningkatan pasokan ini dibarengi penurunan tajam pembelian dari China serta lonjakan ekspor Amerika Serikat.
Adanya jalur pipa alternatif sepanjang ratusan mil di Timur Tengah turut membantu menekan harga minyak hingga hampir 30% dari titik puncaknya.
Satelit Copernicus milik Uni Eropa berhasil mengidentifikasi aktivitas transfer minyak di lepas pantai Oman.
TankerTrackers.
com Inc. mencatat ada 12 kapal yang memuat minyak non-Iran dari Timur Tengah melakukan transfer di luar Hormuz pada 6 Juni.
“Ini adalah minyak yang berasal dari negara-negara tetangga Arab Iran,” kata TankerTrackers. com.
“Ini adalah alasan lain mengapa harga minyak saat ini tidak mencapai US$200 per barel.”