⌂ Beranda News Industri Agroinput Nasional Butuh Solusi di Tengah Lonjakan Biaya Produksi

Industri Agroinput Nasional Butuh Solusi di Tengah Lonjakan Biaya Produksi

Industri Agroinput Nasional Butuh Solusi di Tengah Lonjakan Biaya Produksi
Ilustrasi industri agroinput nasional
A A Ukuran Teks16px

Industri agroinput nasional saat ini berada dalam mode bertahan akibat lonjakan biaya produksi. Kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional dan penguatan dolar Amerika Serikat menjadi pemicu utama.

Hal ini terungkap dalam Media Briefing bertajuk "Harga Agroinput dan Beban Produksi Meningkat, Bagaimana Solusi Industri?" di Jakarta, Senin (8/6/2026).

>>> Pengadilan Niaga Jakarta Pusat Tolak PKPU PT Bissot Jaya Pratama

Usulan Insentif Fiskal untuk Industri Prolintan

Chairman CropLife Indonesia Midzon Johannis menjelaskan bahwa dalam formulasi pestisida dibutuhkan bahan aktif dan bahan tambahan.

Sebanyak 85-90% bahan aktif diimpor, dengan sumber utama dari China (60%), India (16%), dan lainnya (25%), sisanya dari lokal.

Struktur biaya pestisida terdiri dari bahan aktif 40-60%, bahan tambahan 20-30%, kemasan 15-20%, serta pelabelan dan kepatuhan 2-5%.

"Peningkatan harga minyak dan pelemahan rupiah telah mempengaruhi harga bahan aktif dan bahan tambahan.

Dalam jangka pendek, kami mengusulkan intervensi kebijakan berupa insentif fiskal atau pengurangan tarif untuk bahan baku," kata Midzon.

Industri prolintan juga melihat masih ada volatilitas hingga tensi di Timur Tengah mereda.

Saat ini, mereka berada di posisi bertahan untuk mencegah kenaikan harga secara agresif dengan disiplin biaya dan wait and see.

>>> Sega dan Atlus Resmi Umumkan Persona 6, Penjualan Seri Tembus 30 Juta Unit

"Harga minyak dari sekitar US$60 per barel sempat melonjak hingga US$110 per barel, sekarang sedikit turun.

Prediksi akhir tahun stabil di US$86 per barel, itu sudah 20-30% di atas harga saat ini.

Sedangkan per 1 dolar AS sudah Rp18 ribu lebih dan nampaknya up-trend," ujar dia.

Untuk jangka panjang, industri prolintan perlu mendiversifikasi sumber impor, meskipun opsi sangat terbatas. "60% produksi pestisida dunia bahan aktifnya diproduksi China dengan harga sangat kompetitif.

Eropa dan AS tidak bisa bersaing," papar Midzon.

Industri prolintan juga perlu memanfaatkan situasi untuk menata rantai pasok dan distribusi, mengimplementasikan ekonomi sirkular untuk kemasan plastik, serta mendukung strategi pembangunan ekonomi dan perbaikan daya beli masyarakat.

>>> Erick Thohir Pastikan Perlakuan Setara bagi Elkan Baggott di Timnas

Tekanan pada Industri Perbenihan

Ketua Umum Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) Ayub Darmanto memaparkan tekanan serupa pada industri perbenihan.

Benih impor, seperti golongan Brassica (kubis, sawi putih, pakcoy, bunga kol, brokoli), otomatis harganya naik akibat kenaikan harga minyak dan penguatan dolar.

"Benih impor sudah tidak bisa ditahan lagi. Kami menjual dengan rupiah, tapi membeli dengan dolar atau euro.

Ini sangat memukul," jelas Ayub.

Saat ini, pelaku industri perbenihan memilih wait and see sambil memonitor pergerakan dolar AS.

Mereka mendorong petani, terutama petani sayur, untuk lebih cerdas, melakukan efisiensi, serta menerapkan konsep tepat guna dan tepat produk.

"Solusi di tengah situasi ini, petani harus menjadi petani yang cerdas. Pilih crop yang benar agar saat panen harganya tidak jatuh," kata Ayub.

>>> Lintasarta Tetap Investasi Infrastruktur AI Meski Harga Komponen Melonjak

Ia mencontohkan kebiasaan petani sayur yang sering menanam tanaman saat harganya sedang tinggi, padahal seharusnya menyasar tanaman yang harganya sedang jatuh.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru