Harga emas dunia mengalami koreksi tajam hingga menembus level teknikal penting. Logam mulia ini gagal mempertahankan area support jangka panjangnya.
Pelemahan dalam beberapa pekan terakhir memicu pertanyaan di kalangan investor. Mereka mencari momentum yang tepat untuk mulai mengakumulasi aset safe haven tersebut.
>>> Stadion Gajayana Siap Gelar Festival BTV Semesta Berpesta Malang 2026
Harga emas spot diperdagangkan di kisaran US$ 4.327 per ons troi. Angka ini mencerminkan penurunan sekitar 3% dalam sehari.
Pelemahan mingguan mencapai lebih dari 4% setelah menembus level support 200-day moving average.
Tekanan terhadap logam mulia semakin berat setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang kokoh.
Laporan nonfarm payrolls mencatat penambahan 172 ribu pekerjaan pada Mei. Angka tersebut berada jauh di atas ekspektasi pasar.
Kondisi data tersebut memicu perkiraan pelaku pasar bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Langkah tersebut bahkan membuka peluang adanya kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun ini.
Kepala Ekonom AS Societe Generale Jan Groen mengatakan data tenaga kerja yang solid memberikan ruang bagi The Fed untuk fokus mengendalikan inflasi.
Inflasi masih menjadi perhatian utama pasar.
Selain sentimen kebijakan suku bunga, pergerakan harga emas juga terbebani oleh lonjakan harga energi. Konflik Iran memicu kekhawatiran inflasi global.
>>> Mahasiswa Universitas Mataram Raih Penghargaan Apple Lewat Aplikasi Nuramma
Meski demikian, penurunan harga saat ini dinilai menjadi peluang bagi sebagian pelaku pasar.
Chief Market Strategist Blue Line Futures Phillip Streible menilai kondisi tersebut negatif bagi emas dalam jangka pendek.
Namun, ia melihat koreksi saat ini sebagai peluang bagi investor dengan horizon investasi lebih panjang. "Penembusan support memang tidak ideal untuk emas dalam jangka pendek.
Namun saya melihat pelemahan ini sebagai buyable dip karena fundamental jangka panjang emas masih tetap kuat," ujarnya.
Meskipun sejumlah analis mulai melihat peluang akumulasi, risiko penurunan harga emas dalam jangka pendek diperkirakan masih terbuka lebar.
Head of Commodity Strategy Saxo Bank Ole Hansen memperkirakan harga emas berpotensi menguji area US$ 4.099 per ons troi, yang merupakan level terendah pada Maret lalu.
Sementara itu, analis FOREX. com Fawad Razaqzada melihat kemungkinan harga emas turun menuju area psikologis US$ 4.000 per ons troi.
Hal itu terjadi jika sentimen pasar terus memburuk.
Menurut pandangannya, pasar masih akan bergerak sangat sensitif terhadap perkembangan inflasi serta arah kebijakan moneter AS dalam beberapa pekan mendatang.
>>> OpenAI Sukarela Ikut Evaluasi Keamanan Model AI Pemerintah AS
Fokus pasar selanjutnya akan tertuju pada rilis data inflasi konsumen (CPI) serta inflasi produsen (PPI) AS.
Apabila tekanan inflasi di AS terpantau tetap tinggi, peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed diproyeksikan semakin mengecil.
Hal itu berpotensi kembali menekan pergerakan emas.
Di tengah tekanan jangka pendek tersebut, sejumlah pengamat pasar tetap optimistis melihat prospek pergerakan instrumen investasi ini untuk jangka panjang.
Direktur Strategi ETF abrdn Robert Minter memperkirakan bank sentral global akan kembali meningkatkan pembelian emas jika harga terus melemah, seperti yang terjadi pada Maret dan April lalu.
Ia menambahkan bahwa tingginya beban utang pemerintah di berbagai negara serta tren diversifikasi cadangan devisa menjadi alasan kuat bagi bank sentral untuk terus menambah kepemilikan emas.
Pandangan serupa disampaikan Founder dan Executive Director B2PRIME Group Eugenia Mykuliak.
Ia menilai pelemahan harga emas saat ini bukan awal dari pasar bearish, melainkan benturan antara aksi jual investor jangka pendek dan permintaan strategis dari bank sentral.
"Emas tetap memperkuat posisinya sebagai aset cadangan global dan instrumen safe haven. Karena itu, saya tidak melihat koreksi saat ini sebagai awal tren bearish," ujarnya.
>>> KPK Usut Suap Importasi Bea Cukai, Dirjen Djaka Angkat Bicara
Melalui fundamental jangka panjang yang dinilai masih solid, koreksi harga saat ini dipandang sebagai ruang akumulasi. Namun, investor wajib mencermati risiko penurunan lanjutan dari ketidakpastian inflasi global.