Amerika Serikat berupaya mengatasi tantangan perang modern dengan mengembangkan sistem khusus untuk melumpuhkan drone musuh.
Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada rudal konvensional yang biaya produksinya jauh lebih mahal.
>>> PT Sucofindo Bangun Sumur Bor Air Bersih di Aceh Besar
Upaya tersebut muncul setelah pengalaman di Iran, di mana drone Shahed membanjiri sistem pertahanan AS. Militer AS terpaksa menembak jatuh drone dengan rudal yang sangat mahal.
Korps Marinir AS memperkenalkan sistem bernama Marine Air Defense Integrated System (Madis) sebagai solusi.
Sistem ini terdiri dari dua kendaraan Joint Light Tactical Vehicles (JLTV) buatan Kongsberg Defence & Aerospace.
Salah satu kendaraan dilengkapi radar khusus untuk mendeteksi objek terbang seperti drone. Sistem ini juga memiliki kemampuan perang elektronik untuk mengacaukan sinyal musuh.
Platform Madis mengintegrasikan sensor dan senjata langsung pada sasis JLTV untuk pertahanan udara bergerak.
>>> Kode Redeem ML 3 Juni 2026 Terbaru: Klaim Emote Gratis
Senapan rantai XM914 30mm buatan Northrop Grumman digunakan untuk serangan cepat terhadap drone di ketinggian rendah.
Proyektil peluru dirancang khusus untuk meningkatkan efektivitas terhadap sasaran udara kecil dan bergerak cepat. Target seperti ini sulit dilumpuhkan dengan sistem pertahanan udara tradisional.
Selain senapan, tersedia opsi rudal Stinger untuk hantaman lebih besar.
Di Timur Tengah, AS dan negara Teluk selama ini menggunakan helikopter serta pesawat bersenapan untuk merontokkan drone Iran.
>>> Triumph Indonesia Resmi Pasarkan Street 400 dan Scrambler 400 X
Namun, mereka masih bergantung pada rudal udara ke udara mahal seperti AIM-120 yang harganya mencapai USD 1 juta per unit.
Efisiensi Anggaran Pertahanan
Konsep pengembangan Madis adalah menyediakan opsi bagi komandan di medan perang, mulai dari senapan, rudal, hingga perangkat perang elektronik.
Dengan begitu, pemimpin di lapangan dapat memilih metode terbaik untuk melindungi pasukan tanpa menguras anggaran militer.
Meski operasional Madis lebih murah, produsen pertahanan AS masih menghadapi kendala kapasitas produksi peluru senapan. Jumlahnya harus mencukupi di pasaran.
"Ada begitu banyak jenis drone di luar sana, Anda tidak tahu persis apa yang akan Anda hadapi.
>>> DPR Dukung Pelantikan Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala BGN
Anda hanya bisa berharap data intelijen Anda akurat, lalu Anda maju ke medan dengan semua persenjataan yang Anda miliki, sambil berharap yang terbaik," kata Sersan Staf Konie dari militer AS.