Pelatih tim nasional Kanada, Jesse Marsch, menerapkan strategi pembagian menit bermain saat menjamu Uzbekistan di Commonwealth Stadium, Edmonton, Senin malam waktu setempat.
Langkah ini diambil untuk menjaga kebugaran dan kesiapan fisik pemain menjelang putaran final Piala Dunia.
>>> Harga Emas Antam 2 Mei 2026 Turun Rp 25.000 Per Gram
Keputusan rotasi dipicu kekhawatiran atas cedera ligamen (ACL) parah yang dialami gelandang Marcelo Flores dalam final CONCACAF Champions Cup.
Kondisi tersebut memaksa Marsch fokus pada manajemen ritme bertanding dua pemain veteran asal Toronto FC, Richie Laryea dan Jonathan Osorio.
Dalam pertandingan pemanasan ini, Laryea diturunkan sebagai starter sejak menit awal, sedangkan Osorio memulai dari bangku cadangan.
Skuad Kanada saat ini diisi kombinasi 13 pemain alumni Piala Dunia 2022 serta sejumlah pilar muda yang baru mencatatkan debut di turnamen besar.
"Richie akan bermain selama 30 menit," ujar Marsch kepada wartawan, termasuk Canadian Soccer Daily, dalam panggilan Zoom pada Minggu siang.
Marsch menjelaskan bahwa mayoritas anak asuhnya akan mendapat kesempatan tampil selama satu babak dalam laga uji coba ini.
Beberapa pemain seperti Moïse Bombito dipastikan siap bertanding, sementara Ali Ahmed dan Jacob Shaffelburg masih membutuhkan waktu pemulihan lebih lama.
"Sebagian besar pemain akan bermain selama 45 menit besok, jadi kami akan memperlakukan ini sebagai pembagian skuad. Moïse (Bombito) seharusnya siap tampil.
>>> Nvidia Luncurkan Prosesor RTX Spark untuk Saingi Qualcomm di Pasar PC
Sebagian besar pemain kami seharusnya siap tampil. (Untuk) Ali Ahmed, kami pikir ini sedikit terlalu dini, jadi dia akan membutuhkan lebih banyak waktu.
Jacob Shaffelburg juga akan membutuhkan lebih banyak waktu," kata Marsch.
Strategi ini juga diterapkan untuk menguji fleksibilitas taktik tim menghadapi Uzbekistan yang memiliki gaya bermain mirip dengan calon lawan mereka di fase grup Piala Dunia nanti.
Skuad asuhan Fabio Cannavaro tersebut dinilai memiliki organisasi pertahanan yang sangat solid dan disiplin tinggi.
"Kami telah memetakan hal ini karena kami pikir ini adalah tim yang bermain pada level yang baik dan akan menantang kami," tutur Marsch.
Marsch menambahkan bahwa Uzbekistan merupakan tim yang mengandalkan keunggulan atletis dan pertahanan kokoh, menyerupai karakter permainan Bosnia dan Herzegovina serta Qatar.
Gaya bermain defensif ini memaksa Kanada tampil lebih agresif di lapangan.
>>> Indonesia Tekuk Myanmar 3-0 di Stadion Utama Sumut, Puncaki Klasemen Grup A Piala AFF U19
"Mereka bertahan dengan sangat baik, dan mereka adalah tim yang besar dan atletis.
Dari sudut pandang itu, saya pikir ada beberapa kemiripan dengan Bosnia dan Herzegovina di sana, dan sedikit kemiripan dengan Qatar karena (konfederasi yang sama), tetapi saya pikir (Fabio) Cannavaro telah melakukan pekerjaan yang baik dengan (Uzbekistan)," ucap Marsch.
Kanada dituntut mematangkan organisasi permainan, terutama dalam mengantisipasi situasi bola mati serta memutus aliran umpan silang lawan ke dalam kotak penalti.
Pertandingan persahabatan ini menjadi tolok ukur penting sebelum Kanada melakoni laga pembuka Piala Dunia melawan Bosnia dan Herzegovina di Toronto pada 12 Juni.
"Mereka akan berorientasi defensif dan sulit ditembus," kata Marsch.
Tim pelatih menekankan bahwa agresivitas pemain harus tetap terkontrol dengan baik sepanjang jalannya laga.
Marsch menargetkan penyelesaian pertandingan tanpa ada tambahan pemain cedera baru di dalam skuadnya.
"Ini akan menjadi pertandingan di mana kami harus agresif, menghilangkan kemampuan mereka untuk melepaskan umpan silang ke dalam kotak penalti dan tampil baik dalam situasi bola mati.
>>> Kanada Hadapi Uzbekistan di Edmonton Jelang Piala Dunia 2026
Ini adalah tim yang lengkap," ujar Marsch.