⌂ Beranda News Rupiah Melemah ke Rp17.894 per Dolar AS pada 2 Juni 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.894 per Dolar AS pada 2 Juni 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.894 per Dolar AS pada 2 Juni 2026
Grafik pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah melemah mendekati level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan awal bulan Juni 2026.

Berdasarkan data Bloomberg Technoz, rupiah sempat menguat tipis 0,02% ke posisi Rp17.865 per dolar AS pada awal sesi.

>>> Tiga Grup K-Pop Tembus 15 Besar Tur Dunia Berpendapatan Tertinggi 2026

Namun, pergerakan tersebut berbalik arah pada pukul 09:07 WIB ketika rupiah tergerus 0,03% ke level Rp17.880 per dolar AS.

Tekanan semakin berat pada pukul 09:22 WIB, membawa rupiah jatuh lebih dalam ke posisi Rp17.894 per dolar AS.

Pelemahan Meluas di Asia

Pelemahan rupiah tidak terjadi sendiri. Mayoritas mata uang di kawasan Asia juga menunjukkan koreksi serupa.

Won Korea Selatan mencatat penurunan paling tajam, yakni 0,26%.

>>> Kanada Uji Coba Lawan Uzbekistan di Edmonton Jelang Piala Dunia 2026

Sentimen negatif dipicu oleh ketidakpastian baru dalam negosiasi bilateral antara AS dan Iran.

Ekspektasi pasar akan penurunan eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meredup setelah kedua negara memberikan sinyal yang saling bertolak belakang.

Presiden AS Donald Trump menyatakan nota kesepahaman terkait pembukaan kembali Selat Hormuz berpeluang disepakati dalam sepekan. Namun, ia mencatat masih ada poin krusial yang harus diselesaikan.

>>> Tiga Kontestan Piala Dunia 2026 Raih Kemenangan di Laga Uji Coba

Di sisi lain, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa Teheran bersama kelompok sekutu regionalnya tengah mengkaji rencana penutupan menyeluruh Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.

Silang pendapat ini memaksa pelaku pasar keuangan global kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan energi jangka panjang.

Faktor Domestik Turut Memberatkan

Tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari eksternal, tetapi juga dipicu faktor domestik.

Investor masih mencermati inkonsistensi kebijakan dan sinyal yang dinilai kurang memberikan kepastian hukum bagi pengelolaan ekonomi nasional.

>>> Wisatawan Yellowstone Dekati Bison Demi Swafoto, Petugas Beri Peringatan

Di tengah volatilitas pasar global, pelaku pasar cenderung menerapkan premi risiko lebih tinggi untuk negara dengan ketidakpastian kebijakan seperti Indonesia.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru