Tim peneliti di Universitas Duke menciptakan robot berbentuk bulat unik bernama Argus. Robot ini dirancang tanpa memiliki sisi depan, belakang, atas, maupun bawah.
Argus dilengkapi kamera sensor kedalaman pada 20 kaki teleskopik yang memancar dari inti pusatnya. Hal ini memungkinkan robot melihat dan bergerak ke segala arah secara instan.
>>> Tigres UANL Paksa Toluca ke Adu Penalti di Final Concacaf 2026
Prinsip Desain Isotropi Dinamis
Pengembangan ini dipimpin oleh profesor teknik Boyuan Chen. Timnya menerapkan prinsip desain baru bernama isotropi dinamis.
Metode tersebut menilai kemampuan akselerasi seragam robot dalam skala 0 hingga 1.
Argus berhasil meraih skor 0,91, sementara sebagian besar robot humanoid dan drone saat ini berada di bawah 0,6.
Dalam uji coba, Argus mampu menavigasi pantai berpasir dan melewati semak hutan. Robot ini juga dapat berguling melompati rintangan serta menstabilkan diri setelah didorong.
Argus bahkan bisa memanjat di antara dinding bata dengan mengombinasikan gerakan menopang dan mendorong. Robot tetap berfungsi meski beberapa motor penggerak mati atau kakinya patah.
>>> Korea Selatan Acak Nomor Punggung Pemain Jelang Uji Coba Lawan Trinidad
"Alih-alih mengukur bagaimana kaki Anda tersusun di berbagai bagian tubuh, kami mengukur seberapa cepat Anda dapat bergerak ke segala arah.
Siapa yang bilang robot pembantu harus terlihat seperti kita?" ujar Chen.
Kemampuan manuver yang merata ini mengubah cara robot berinteraksi dengan lingkungan.
"Ketika robot dapat berakselerasi sama baik ke segala arah, robot tersebut tak lagi harus menghadap dunia dengan cara tertentu," jelas Chen.
>>> Diskon TV LED Smart di Transmart Full Day Sale 31 Mei 2026
Fleksibilitas desain ini diharapkan dapat diterapkan pada robot pencari dan penyelamat (SAR), kendaraan bawah air atau udara, hingga sistem robotik penggenggam objek.
"Daripada merancang tangan robot seperti tangan manusia, salah satu gagasannya adalah menjadikan Argus itu sendiri sebagai tangan yang mampu memanipulasi objek dari segala arah," kata Chen.
Anggota tim peneliti lainnya, Jiaxun Liu, mahasiswa pascasarjana sekaligus rekan penulis studi, mengonfirmasi pergerakan tidak biasa robot ini.
"Melihat Argus bergerak tidak seperti melihat robot-robot lain yang pernah kami tangani sebelumnya," ujar Liu.
Ketahanan robot di medan ekstrem menjadi catatan penting.
>>> Investor Asing Borong Saham GOTO Rp 103 Miliar di Tengah Aksi Jual Masif
"Pertama kali kami melihatnya menavigasi di antara pepohonan dan medan kasar, bahkan saat mengalami benturan keras, kami tahu bahwa robot ini adalah sesuatu yang berbeda," cetus Liu.