Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) kini mempersempit bursa calon pelatih baru tim nasional Italia menjadi dua kandidat utama.
Mereka adalah Antonio Conte dan Roberto Mancini, yang akan menggantikan Gennaro Gattuso.
Pemilihan pelatih baru ini menjadi krusial mengingat posisi timnas Italia yang terpuruk. Gli Azzurri gagal lolos ke Piala Dunia dalam tiga edisi beruntun.
Keputusan final mengenai penunjukan juru taktik baru ini dilaporkan baru akan diselesaikan setelah struktur kepengurusan presiden FIGC yang baru resmi terbentuk pada akhir Juni.
Pandangan Massimo Ambrosini
Mantan gelandang tim nasional Italia, Massimo Ambrosini, memberikan pandangannya mengenai situasi persaingan kursi kepelatihan Gli Azzurri. Menurutnya, persaingan kini mengerucut antara Antonio Conte dan Roberto Mancini.
Ambrosini juga mengomentari kabar mantan pelatih timnas Italia, Gennaro Gattuso, yang dikaitkan dengan klub Lazio. Ia menilai Gattuso menanggung beban emosional yang berat saat menangani tim nasional.
Dalam wawancara yang sama, Ambrosini turut memaparkan pandangannya mengenai peta persaingan Serie A.
Ia juga menyoroti kejutan Como yang lolos ke Liga Champions serta prediksinya mengenai tim favorit di Piala Dunia mendatang.
Terkait absennya Italia di Piala Dunia 2026, Ambrosini menyatakan dukungannya untuk tim nasional Brasil yang kini dilatih oleh Carlo Ancelotti.
Ia juga menyoroti peluang negara-negara besar lain seperti Spanyol, Prancis, Argentina, serta potensi kejutan dari Portugal.
Kendala Finansial dan Keuntungan Masing-masing Kandidat
Laporan internal FIGC menunjukkan bahwa Antonio Conte menjadi sosok yang paling disukai berkat pencapaiannya pada Piala Eropa 2016.
Namun, gajinya yang mencapai 8 juta euro per musim menjadi kendala finansial terbesar.
Berkaca pada tahun 2014, FIGC kemungkinan perlu mencari dukungan dari kelompok sponsor eksternal guna membiayai kedatangan pelatih asal Lecce tersebut.
Sebaliknya, Roberto Mancini yang baru saja menjuarai Liga Qatar bersama Al Sadd dinilai menjadi opsi yang lebih murah.
Ia bersedia menerima bayaran sekitar 2 miliar euro per tahun.
Kedekatan Mancini dengan calon kuat presiden federasi, Giovanni Malagò, menjadi keuntungan tersendiri.
Meskipun demikian, bayang-bayang pengunduran dirinya yang mendadak lewat email pada Agustus 2023 lalu masih memicu perdebatan publik.