Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat hingga mencapai Rp 17.853 pada Jumat (29/5/2026).
Pelemahan sebesar 0,04 persen ini terjadi di tengah upaya pemerintah mendorong rupiah ke level Rp 15.000.
>>> Astra Bangun Rumah Layak Huni dan EcoBiz Kopi di Garut
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyatakan komitmen pemerintah untuk menekan penguatan dolar.
Pernyataan itu disampaikan saat rupiah berada di Rp 17.698 per dolar AS dalam acara Jogja Financial Festival 2026, Jumat (22/5/2026).
"Kita akan dorong rupiah ke arah Rp 15.000. Kalau kata Pak Presiden, 'Purbaya senyum, ekonomi aman.'
Ini senyum terus nih," ujar Purbaya.
Analis: Target Rp 15.000 Tidak Realistis
Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira menilai pemulihan nilai tukar secara signifikan sangat sulit terjadi.
Menurutnya, rupiah justru berpotensi menembus Rp 18.000 per dolar AS akibat respons negatif investor asing terhadap kebijakan regulasi saat ini.
"Jadi hampir tidak mungkin ketika rupiah sudah tembus level psikologis 17.000 dan 18.000 maka dia akan kembali lagi ke level 15.000," kata Bhima.
Kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam sebesar 100 persen di perbankan BUMN serta rencana ekspor satu pintu lewat Danantara Sumberdaya Indonesia memicu kekhawatiran pelaku pasar.
Bhima menjelaskan, kebijakan tersebut justru mendorong peralihan dana ke deposito valas.
"Bahkan kebijakan-kebijakan seperti DHE ditahan itu juga akan memicu peralihan, dan ini sudah terlihat banyak yang sedang berjaga-jaga dengan menjual rupiah dan masuk ke deposito valas, masuk ke deposito dolar Amerika Serikat," terangnya.
>>> Bikkhu Ambil Api Dharma Waisak dari Mrapen Grobogan
Aktivitas pengalihan dana ke deposito valas oleh pelaku usaha maupun rumah tangga meningkatkan permintaan dolar AS.
Bhima menegaskan, masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan aturan DHE atau pembentukan badan ekspor.
"Artinya permintaan dolar baik dari sisi pelaku usaha maupun rumah tangga itu meningkat.
Nah ini jadi tidak bisa diselesaikan dengan DHE wajib masuk kemudian badan ekspor nasional atau DSI. Masalahnya bukan di situ," ujarnya.
Tekanan fiskal yang melanda saat ini membuat target penguatan mata uang ke level semula menjadi mustahil dalam jangka pendek.
"Jadi tidak mungkin target berubah rupiah bisa kembali lagi ke 15.000 terhadap dolar gitu ya atau dolarnya kembali ke Rp 15.000," tandas Bhima.
Analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi juga menilai target tersebut sangat tidak realistis di tengah dinamika geopolitik global.
Ia menyebut pernyataan pemerintah soal target Rp 15.000 sebagai "angan-angan".
"Ya itu angan-angan. Setiap wawancara kan selalu bilang 'apakah bisa ke Rp 15.000?'
>>> BEI Pertanyakan Dampak Kebijakan Ekspor Sawit Satu Pintu Lewat BUMN