Karier Lemieux juga diwarnai momen kontroversial saat memperkuat Colorado Avalanche pada Game 6 Final Wilayah Barat 1996.
Hantaman kerasnya dari belakang membuat pemain Detroit Red Wings, Kris Draper, mengalami cedera parah pada rahang dan wajah.
Insiden tersebut memicu rivalitas sengit bertahun-tahun antara kedua tim, termasuk sebuah perkelahian massal legendaris di Joe Louis Arena pada Maret 1997.
Lemieux sempat mengenang atmosfer mencekam di Detroit kala itu, di mana dia menerima banyak ancaman pembunuhan hingga harus menginap di hotel menggunakan nama samaran di bawah penjagaan ketat.
"It was really bad," kata Lemieux.
Pihak kepolisian dan manajemen hotel bahkan harus menempatkan personel keamanan tepat di depan kamar tempat Lemieux menginap sebelum pertandingan panas tersebut berlangsung.
"We were getting faxes from Detroit threatening my life. I had to go in under a fake name.
I had security guy sleeping outside my room in the hotel, following me wherever I went. It got out of control.
I wasn’t prepared for that game," ucap Lemieux.
Rekan setim Draper di Red Wings, Darren McCarty, mengungkapkan bahwa aksi balasan yang dilakukannya terhadap Lemieux dalam perkelahian massal tersebut murni didasari solidaritas personal sebagai sahabat dekat.
"The trajectory of the Red Wings organization changed that day," tutur McCarty.
McCarty menegaskan bahwa tindakan tersebut melompat jauh melampaui urusan taktik pertandingan.
"That’s the ultimate sticking up for your teammate, your best friend. I was best man in (Draper’s) wedding.
It was deeper. It was personal," jelas McCarty.
Pertandingan tersebut berakhir dengan kemenangan Red Wings melalui gol penentu McCarty di babak perpanjangan waktu, sebuah hasil yang dinilai mengembalikan kepercayaan diri tim untuk menjuarai kompetisi.
Kris Draper menuliskan refleksi pribadinya beberapa tahun kemudian mengenai dampak besar malam perkelahian tersebut terhadap mentalitas juara yang akhirnya meruntuhkan dominasi Avalanche di fase playoff.
>>> BPJS Kesehatan Dorong Pemanfaatan Aplikasi JKN dan Layanan Digital
"The brawl was one thing," tulis Draper.
Draper menilai hasil akhir pertandingan di malam penuh emosi tersebut jauh lebih krusial bagi perjalanan timnya meraih gelar juara NHL pertama mereka sejak tahun 1955.
"But us winning that night changed everything. It gave us the belief that we could beat them in the playoffs.
We knew we’d see them again in the Western Conference finals. We just knew," ungkap Draper.
Meskipun insiden itu melahirkan persaingan keras, keberhasilan melewati momen krusial tersebut diakui menjadi motor penggerak utama bagi kejayaan generasi emas Red Wings di era modern.
"Do we still win the Stanley Cup without that brawl? Maybe," tambah Draper.